Sisi Persona

Aryanto Misel: Inventor Otodidak Pencari Energi Alternatif

Kisah Aryanto memunculkan pertanyaan penting: sejauh mana sebuah inovasi yang lahir dari eksperimen personal dapat diuji, diverifikasi, dan kemudian diakui sebagai teknologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?

28 Agustus 2026•5 Kali Dilihat
Oleh: Leqom
Aryanto Misel: Inventor Otodidak Pencari Energi Alternatif

Kredit: IG : Potretlabura

JAKARTA, Sisipublik.id - Nama Aryanto Misel pernah mengemuka di tengah perbincangan publik tentang masa depan energi Indonesia. Ia tidak lahir di laboratorium universitas ternama atau perusahaan teknologi besar, melainkan karena ia datang dari jalur yang berbeda: seorang inventor otodidak dari Cirebon yang memperkenalkan Nikuba, perangkat yang diklaimnya dapat menghasilkan hidrogen dari air untuk membantu menggerakkan kendaraan. Kemunculan Aryanto menarik perhatian bukan semata-mata karena perangkat yang diperkenalkannya. Sosoknya juga menghadirkan cerita tentang bagaimana pengetahuan, rasa ingin tahu, dan eksperimen dapat tumbuh di luar ruang-ruang akademik formal.

Aryanto Misel dikenal berasal dari Lemahabang Wetan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia lahir di Semarang pada 30 Agustus 1955. Latar pendidikan formalnya tidak panjang. Ia lebih banyak mengembangkan pengetahuannya melalui proses belajar secara mandiri dan eksperimen.

Sejak muda, ia mengaku memiliki ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, terutama hal-hal yang berkaitan dengan fisika, kimia, mesin dan energi. Rasa ingin tahu tersebut kemudian membawanya pada berbagai eksperimen yang dilakukan secara mandiri. Jalur pendidikan formal memang tidak selalu menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan. Namun, bagi Aryanto, keterbatasan pendidikan formal justru membuat proses belajarnya berlangsung melalui pengalaman langsung. Ia membaca, mengamati, mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian mencoba kembali.

Dari proses panjang tersebut lahir berbagai eksperimen dan temuan yang dikaitkan dengan dirinya. Dalam sejumlah pemberitaan, Aryanto menyebut telah menghasilkan puluhan hingga sekitar 120 temuan. Di antaranya berkaitan dengan energi alternatif, biodiesel berbahan minyak jelantah, hingga perangkat untuk kebutuhan aeromodeling. Tetapi dari seluruh eksperimen tersebut, nama Aryanto paling kuat melekat pada satu perangkat: Nikuba.

Nikuba merupakan akronim dari “Niku Banyu”, ungkapan dalam bahasa Jawa yang kurang lebih berarti “itu air”. Nama tersebut menjadi identitas perangkat yang dikembangkan Aryanto. Secara sederhana, gagasan yang ditawarkan Nikuba berkaitan dengan pemanfaatan air untuk menghasilkan hidrogen. Air melalui proses elektrolisis dipisahkan menjadi hidrogen dan oksigen. Hidrogen kemudian diposisikan sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan dalam sistem kendaraan. Istilah “kendaraan berbahan bakar air” memang mudah menarik perhatian publik. Namun secara ilmiah, air bukanlah bahan bakar dalam pengertian konvensional. Air merupakan senyawa yang terdiri atas hidrogen dan oksigen. Untuk memisahkan keduanya melalui elektrolisis, dibutuhkan energi. Perjalanan Aryanto kemudian memasuki fase yang lebih luas ketika Nikuba mendapatkan perhatian publik dan diberitakan memperoleh perhatian dari pihak di Italia.

Nama Aryanto bahkan dikaitkan dengan perjalanan ke Milan untuk memperkenalkan teknologi tersebut. Pemberitaan mengenai ketertarikan pihak-pihak dari Italia membuat Nikuba semakin dikenal masyarakat Indonesia. Di titik tersebut, kisah Aryanto berubah. Ia tidak lagi hanya menjadi inventor lokal yang bereksperimen di Cirebon. Namanya mulai ditempatkan dalam percakapan yang lebih besar mengenai teknologi energi alternatif dan masa depan kendaraan. Semakin besar perhatian terhadap sebuah inovasi, semakin besar pula kebutuhan untuk menghadirkan bukti teknis yang terbuka. Dunia ilmiah tidak bekerja terutama berdasarkan siapa yang menemukan sebuah teknologi, seberapa menarik ceritanya, atau seberapa viral temuannya. Sebuah teknologi harus dapat diuji. Di balik kontroversi Nikuba, ada sisi lain dari Aryanto yang sering tenggelam: konsistensinya dalam bereksperimen. Sejumlah pemberitaan menyebut dirinya memiliki banyak hasil eksperimen. Ia pernah mengembangkan bahan bakar alternatif dari minyak jelantah dan berbagai perangkat lainnya.

Inventor seperti Aryanto bekerja dengan cara yang berbeda dari ilmuwan yang berada di dalam institusi penelitian. Mereka sering memulai dari persoalan sehari-hari, mencoba membuat perangkat sendiri, lalu mengembangkannya melalui serangkaian eksperimen. Tantangan terbesar bagi inventor otodidak bukan hanya menemukan sesuatu, tetapi membawa temuannya masuk ke dalam sistem pengujian yang memungkinkan klaim tersebut diverifikasi secara objektif. Kisah Aryanto Misel pada akhirnya bukan hanya kisah tentang Nikuba, karena ia juga berbicara mengenai bagaimana Indonesia memperlakukan para inventor yang tumbuh di luar institusi akademik. Indonesia memiliki banyak persoalan energi, lingkungan dan teknologi. Negara membutuhkan inovasi, tetapi inovasi membutuhkan ekosistem. Seorang inventor tidak cukup hanya diberi panggung ketika temuannya viral. Ia membutuhkan laboratorium, pendampingan teknis, perlindungan kekayaan intelektual, akses terhadap pembiayaan, serta mekanisme pengujian yang independen. Di sisi lain, inventor juga perlu memahami bahwa dunia teknologi memiliki standar pembuktian yang tidak dapat digantikan oleh popularitas. Negara tidak boleh mematikan kreativitas hanya karena sebuah inovasi lahir dari jalur nonakademik.

Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Kalimantan pada Agustus 2026, dan bukan saja menutupi pandangan, tetapi juga masuk ke paru-paru manusia. Kementerian Kesehatan menyebut jutaan orang terdampak asap karhutla, sementara sejumlah provinsi menetapkan status siaga darurat. Di Kalimantan Selatan, misalnya, laporan ISPA mencapai 36.196 kasus hanya dalam periode lima pekan. Angkanya meningkat dari minggu ke minggu dan mencapai 8.458 kasus pada minggu ke-32. Di tengah insiden ini, pembicaraan tentang Nikuba kembali muncul, sebuah  perangkat yang diklaim mampu menghasilkan hidrogen dari air melalui proses elektrolisis untuk kemudian dimanfaatkan sebagai energi kendaraan. Air bukanlah sumber energi gratis. Untuk memperoleh hidrogen dari air melalui elektrolisis diperlukan energi; karena itu, klaim mengenai kendaraan berbahan bakar air tidak boleh dipahami secara sederhana sebagai “air menggantikan bensin”.

Sejumlah ahli juga telah mengingatkan bahwa proses elektrolisis membutuhkan energi dan klaim teknologinya perlu diuji secara ketat.Artinya, perdebatan mengenai Nikuba seharusnya bukan soal percaya atau tidak percaya kepada Aryanto. Karhutla memang memiliki banyak penyebab. Cuaca kering dan kondisi El Niño dapat memperbesar risiko kebakaran, sementara gambut yang terdegradasi dan praktik pembukaan lahan dapat membuat api semakin sulit dikendalikan. Pemberitaan internasional juga menyoroti kaitan antara kondisi kering, gambut, dan praktik pembukaan lahan dengan memburuknya krisis asap di Kalimantan. Karena itu, menggambarkan karhutla hanya sebagai persoalan bahan bakar fosil tentu keliru.
Di sinilah eksperimen seperti Nikuba layak ditempatkan dalam diskusi yang lebih rasional, bukan sebagai “obat” untuk karhutla atau bukan pula sebagai bukti bahwa air bisa begitu saja menggantikan bensin.Ketika jutaan orang terdampak asap dan kasus ISPA meningkat, persoalan lingkungan tidak bisa lagi dipisahkan dari persoalan pembangunan. Kita membutuhkan kebijakan pencegahan kebakaran yang tegas. Kita membutuhkan perlindungan gambut. Kita membutuhkan penegakan hukum terhadap pembakar hutan. Kita membutuhkan sistem peringatan dini dan pemadaman yang lebih baik. Tetapi pada saat yang sama, kita juga membutuhkan keberanian untuk membicarakan masa depan energi. Dan mungkin, di tengah asap yang semakin pekat, sudah waktunya Indonesia tidak hanya mencari siapa yang menyalakan api. Kita juga perlu mulai mencari energi seperti apa yang ingin kita gunakan ketika api itu akhirnya padam.***

Artikel Terkait

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Ada anak presiden yang memilih hidup di bawah bayang-bayang nama ayahnya. Ada pula yang mencoba membangun ruangnya sendiri. Guruh Soekarnoputra berada di antara keduanya.

29 Sep 2026
Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Ada beberapa kebijakan Muhammad Bobby Afif Nasution, sejak menjabat Wali Kota Medan hingga sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara, yang mendapat atensi dari warganet di berbagai platform media sosial. Kebijakan yang mendapat apresiasi publik antara lain: digitalisasi sistem E-Parking non-tunai, akselerasi proyek Bendungan Lau Simeme, serta penjaminan layanan kesehatan gratis melalui program UHC Prioritas. Kita berharap, kombinasi formulasi kebijakan berbasis data, transparansi, serta pola komunikasi digital yang responsif, program kerja Pemprov Sumut memberikan dampak langsung bagi bagi masyarakat.

21 Sep 2026
Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah ikon integritas Polri yang melegenda karena keberaniannya menolak suap dan menghapus hak istimewa ( privilege ) dalam penegakan hukum. Di tengah badai korupsi 2026 yang menjerat Jampidsus Febri Adriansyah dan belasan kepala daerah, kisah mantan Kapolri (1968-1971) ini kembali viral sebagai standar moral bagi generasi muda. Kejujuran , penolakan suap , dan pemutusan konflik kepentingan adalah warisan utama beliau.

15 Sep 2026
Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Perjalanan hidup dan perjuangan Izaak Huru Doko, pahlawan nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meletakkan fondasi pendidikan di tanah Timor. Setelah menempuh pendidikan guru di Jawa, ia memilih kembali ke NTT untuk mengajar, menanamkan jiwa nasionalisme, serta memelopori pendirian pelbagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Di tengah maraknya perburuan kekuasaan, Izaak Huru Doko memberikan teladan integritas dengan berani menolak tawaran posisi politik strategis seperti anggota Konstituante hingga calon gubernur pertama NTT, demi memprioritaskan pengabdian dan pembangunan dunia pendidikan.

10 Sep 2026