JAKARTA, Sisipublik.id - Ada yang selalu magis dari cara sejarah merayap masuk ke dalam kebudayaan: ia jarang datang dengan letupan seketika, melainkan lewat ketukan halus yang merembes pelan ke dalam ingatan kolektif. Dari tanah gurun Arab pada tahun 570 Masehi, di mana kata maulid mula-mula diucapkan sederhana sebagai penanda hari lahir seorang bayi bernama Muhammad, kerinduan itu melintasi lautan dan abad, mengeja ulang dirinya dalam berbagai wujud perayaan. Sejarah mencatat ritus maulud membesar dalam lintasan geopolitik yang sengit: dimulai dari kemegahan istana Dinasti Fathimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriah, bertransformasi menjadi hajatan kolosal Sultan Kukabri di Irbil yang merayakan egalitarianisme lewat jamuan rakyat, hingga menjadi pemantik api moral prajurit Shalahuddin Al-Ayyubi di tengah bayang-bayang Perang Salib. Di Indonesia, batas-batas teologis itu melunak dalam koridor muamalah, seperti yang diaminis Majelis Tarjih Muhammadiyah. Tradisi ini dirawat bukan sebagai dogmatisme kaku, melainkan sebagai wahana untuk menatap kembali keteladanan, kejujuran, dan keadaban sang Rasul.
Lantas, apa yang terjadi ketika kerinduan itu bertabrakan dengan lanskap kebudayaan Jawa abad ke-15? Ia tidak melindas, melainkan bernegosiasi secara arsitektural. Ketika Wali Songo melangkah di atas tanah Jawa sekitar tahun 1404 Masehi, mereka tidak datang membawa pedang untuk meruntuhkan kesenangan lama masyarakat pada bunyi dan keramaian. Di sinilah Sunan Kalijaga menunjukkan genius kulturalnya: beliau tidak mengusik tradisi lokal, melainkan "meminjam" gamelan untuk menuturkan sesuatu yang baru. Bunyi tabuhan gamelan yang magis itu dipetik untuk memanggil kerumunan warga. Ketika telinga warga terpikat dan batin mereka luluh oleh alunan nada, di situlah kalimat Syahadatain disisipkan secara perlahan. Kalimat peneguhan iman itu kemudian luluh, membaur membentuk kata baru: Sekaten. Dari strategi dakwah yang lentur dan penuh empati ini, Sunan Kalijaga bahkan sempat digelari "Kyai Sekati". Gelar ini menjadi bentuk penghormatan pada sosok yang paham betul bahwa iman tidak harus ditegakkan dengan rasa takut, melainkan dapat disemaikan lewat keindahan seni.
Etimologi nama Sekaten sendiri dibaca seperti teka-teki filosofis yang berlapis-lapis di benak masyarakat Jawa. Ia bisa berarti Syahadatain sebagai kesaksian iman yang teguh, atau Sekati yang merujuk pada nama perangkat gamelan pusaka kerajaan. Namun, orang Jawa yang gemar akan kedalaman batin juga membacanya sebagai Suka-ati (kegembiraan rakyat menyambut sang Nabi), Sesek-ati (rasa sesak dan perenungan mendalam atas dosa-dosa manusia), hingga Sakapti (kehendak tunggal untuk melangkah di jalan Tuhan). Tradisi yang mulanya bersemi di Keraton Demak ini kemudian dirawat bagai api suci oleh trah Mataram Islam. Hingga hari ini, Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta meneruskan warisan tersebut sebagai ritus budaya yang menjembatani hubungan antara langit dan bumi. Sebagai sebuah perayaan, Sekaten di lingkungan keraton dijalankan dengan disiplin ritus yang nyaris puitis. Semuanya bermula pada tanggal 5 Rabiul Awal lewat prosesi Miyos Gangsa, ketika gamelan pusaka diarak keluar dari keraton menuju Masjid Agung. Di Surakarta, gamelan yang dikeluarkan adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, sedangkan di Yogyakarta adalah Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Langkah kaki para abdi dalem yang memikul gamelan dalam balutan busana tradisional menciptakan pemandangan yang magis dan hening.
Ada kesucian yang dijaga ketat selama prosesi berlangsung: para penabuh (niaga) wajib berpuasa dan menyucikan diri, sementara dentang gamelan dihentikan sejenak pada malam dan siang Jumat hingga salat Zuhur usai. Di halaman masjid, alunan gamelan diselingi prosesi Sedekah Udhik-Udhik, saat utusan raja menebarkan racikan bunga, beras, dan uang logam. Momen ini menjadi gestur visual yang indah tentang nilai kedermawanan penguasa kepada rakyatnya. Tiga hari sebelum puncak acara, suasana khusyuk berpadu dengan ritme persiapan melalui prosesi Numplak Wajik. Dipimpin putri sulung Sultan atau saudara perempuan raja, adonan wajik ditumplak di tengah Gunungan Wadon sebagai fondasi kerangka, diiringi ketukan ritme baris-berbaris prajurit keraton dalam Gladhi Prajurit. Malam tanggal 11 Rabiul Awal menghadirkan momen paling personal antara raja dan rakyatnya dalam prosesi Kondur Gangsa. Sebelum gamelan diarak kembali ke keraton, Sri Sultan hadir di Masjid Gede untuk menyimak pembacaan riwayat Nabi oleh Kiai Pengulu. Di telinga kiri Sultan, terselip selarik bunga melati (simping mlathi), sebuah simbol visual yang sunyi namun tegas bahwa seorang penguasa wajib selalu memasang telinganya untuk mendengarkan keluh kesah serta aspirasi rakyat. Klimaks dari seluruh laku spiritual ini pecah pada pagi tanggal 12 Rabiul Awal melalui prosesi Grebeg Muludan.
Berbagai gunungan raksasa, mulai dari Kakung, Estri, Darat, Gepak, hingga Pawuhan yang memuat hasil bumi, diarak menuju Masjid Agung untuk didoakan. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh ribuan warga yang meyakini adanya limpahan berkah di setiap petikan sayur dan penganannya. Ketika malam jatuh, perayaan itu tidak ditutup dengan kegaduhan, melainkan dengan Bedhol Songsong, yaitu pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Pagelaran Keraton tepat setelah payung-payung agung kerajaan dicabut pada sore harinya. Ini menjadi penanda elegan bahwa perayaan telah usai dan kehidupan sehari-hari harus kembali dirawat. Sekaten tidak pernah benar-benar lengkap tanpa hiruk-pikuk yang tercipta di luar benteng keraton. Di pasar malam yang melingkupi Alun-Alun dan halaman masjid, kebudayaan Jawa memamerkan wataknya yang paling merakyat sekaligus penuh petuah tersirat. Di sana, warga mengunyah Kinang—racikan sirih, jambe, tembakau, dan kapur sirih—yang lima unsurnya merawat ingatan pada lima rukun Islam. Pembeli juga memburu Endhog Kamal (telur asin) yang secara fonetis mengingatkan manusia untuk terus menumpuk amal baik, atau membeli pecut kayu kecil sebagai 'pecut' spiritual agar tidak malas menjalani hidup.
Selain itu, celengan tanah liat turut dijual untuk mengeja kembali falsafah gemi, setiti, lan ngati-ati, sebuah kebiasaan menabung yang dibarengi doa sederhana agar tahun depan masih diberi umur untuk kembali menyambut Sekaten. Di antara aroma Sego Gurih bersantan yang hanya muncul setahun sekali, terdengar derit nyaring mainan kapal othok-othok di atas baskom air dan putaran gasing kayu yang dimainkan anak-anak. Semua benda sederhana itu bukan sekadar dagangan, melainkan artefak nostalgia yang merekatkan memori antargenerasi. Pada akhirnya, Sekaten adalah sebuah simfoni: tempat di mana sejarah tidak dibacakan sebagai teks yang kaku, melainkan dirasakan lewat alunan gamelan, dihirup lewat wangi bunga udhik-udhik, dan dikunyah lewat rasa gurih sebungkus nasi. Jika ditarik ke dalam diskursus filsafat kebudayaan, fenomena Sekaten merupakan demonstrasi sempurna dari apa yang dalam antropologi disebut sebagai sinkretisme kultural dan penyerapan ala local genius (kearifan lokal). Filsuf hermeneutika Hans-Georg Gadamer pernah berbicara tentang "peleburan cakrawala" (Horizontverschmelzung), yaitu sebuah proses ketika dua latar ingatan dan dunia yang berbeda bertemu lalu saling melengkapi tanpa perlu saling memusnahkan. Agama Islam yang lahir di Jazirah Semitik dan tradisi Jawa berbasis agraris-animistis bertemu bukan sebagai benturan peradaban, melainkan sebagai dialog teologis yang elok. Elemen mistisisme lokal disiram air tauhid, sementara doktrin agama dibalut estetika lokal. Hasilnya adalah bentuk akulturasi organik yang melahirkan entitas kebudayaan baru dan berakar kuat.
Proses perjumpaan ini menyingkap betapa kaya dan lenturnya bentang ragam budaya Nusantara. Indonesia tidak dibangun dari monolit identitas yang seragam, melainkan dari jaringan mosaik kebudayaan yang memiliki imajinasi luar biasa dalam menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan kompas dirinya. Sekaten hanyalah satu dari ribuan muara tempat tradisi lokal dan spiritualitas Islam berkelindan. Hal ini membuktikan bahwa perbedaan bagi masyarakat Nusantara bukanlah sebuah ancaman, melainkan bahan bakar bagi kreativitas kebudayaan. Di tanah Mataram, iman dan tradisi tidak pernah bertengkar; keduanya bersanding, menari, dan merawat daya hidup yang terus mengalir melintasi zaman.




