JAKARTA, Sisipublik.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah di Kalimantan. Memasuki periode musim kemarau dengan curah hujan yang minim, titik-titik kebakaran terus bermunculan dan memicu kepulan asap tebal yang menyelimuti permukiman, kawasan perkotaan, hingga wilayah perbatasan. Kondisi ini bukan sekadar persoalan lingkungan biasa, melainkan telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang sangat mendesak. Kabut asap yang terbentuk dari kebakaran lahan tersebut membawa partikel-partikel berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi warga, terutama anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki gangguan pernapasan bawaan.
Banyak anggapan keliru yang menilai bahwa kebakaran hutan dan lahan hanyalah siklus musiman biasa yang akan mereda dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Pada kenyataannya, musim kemarau merupakan faktor pemicu utama yang membuat vegetasi dan lahan menjadi sangat kering, sehingga percikan api yang awalnya kecil dapat dengan cepat membesar dan menyebar luas, terutama ketika disertai embusan angin kencang. Lebih dari itu, karakteristik lahan gambut di Kalimantan menjadikannya salah satu kawasan yang paling rentan dan sulit ditangani secara instan. Meskipun api di permukaan tampak sudah berhasil dipadamkan oleh petugas, bara api yang merasuk ke dalam lapisan dalam gambut dapat bertahan lama dalam kondisi kering, lalu sewaktu-waktu muncul kembali sebagai titik api baru di lokasi yang sama sekali berbeda.
Dampak nyata dari karhutla ini tercermin secara gamblang dari data kesehatan terbaru yang menunjukkan adanya 2.052 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hanya dalam waktu satu pekan. Angka statistik resmi ini menjadi sinyal kuat bahwa dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai persoalan tahunan biasa. Kelompok rentan seperti anak-anak memerlukan perhatian khusus karena sistem pernapasan mereka yang masih dalam tahap perkembangan aktif, sehingga paparan polusi udara ekstrem memberikan dampak negatif yang jauh lebih merusak bagi masa depan mereka. Begitu pula dengan kelompok lansia serta warga dengan riwayat penyakit pernapasan bawaan, yang kini mengalami kesulitan luar biasa dalam mengakses udara bersih serta mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis akibat paparan polusi yang terus-menerus.
Dari perspektif kebijakan publik, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada upaya pemadaman darurat saat api sudah membesar di lapangan. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat keamanan, masyarakat, serta para relawan harus menghadapi realitas medan yang sulit dijangkau, keterbatasan akses jalan, dan sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran. Dalam situasi yang serbaterbatas ini, patroli mandiri berbasis masyarakat dan penguatan kapasitas relawan lokal menjadi sangat penting karena mereka berfungsi sebagai mata dan telinga pertama yang mendeteksi asap sebelum meluas. Kebijakan perlindungan lingkungan harus diterjemahkan secara nyata melalui tindakan pencegahan, edukasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, serta penegakan hukum yang transparan tanpa pandang bulu terhadap pihak yang lalai atau sengaja memicu kebakaran demi keuntungan pribadi.
Pada akhirnya, bencana karhutla di Kalimantan ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa hutan bukan sekadar hamparan pepohonan yang bernilai ekonomis, melainkan ruang hidup bersama yang menyokong ekosistem dan kesehatan publik. Ketika hutan terbakar, kerugian yang ditimbulkan melampaui batas administratif dan sektoral, mengganggu aktivitas ekonomi, menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, serta melahirkan emisi karbon yang memperburuk krisis iklim global. Oleh karena itu, penanganan karhutla membutuhkan perspektif yang lebih luas dan terintegrasi dari pembuat kebijakan. Menjaga kelestarian hutan di Kalimantan pada dasarnya adalah langkah nyata untuk melindungi udara yang kita hirup, air yang kita minum, serta menjamin hak kesehatan bagi generasi masa kini dan masa depan.




