JAKARTA, Sisipublik.id - Pernahkah kamu jalan-jalan ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan melintas di sebuah jalan yang mengabadikan nama seseorang? Bagi sebagian besar anak muda yang tidak tinggal di Pulau Timor, nama Izaak Huru Doko mungkin terdengar asing. Padahal, jika kita menggali lebih dalam, nama tersebut bukanlah sekadar papan petunjuk jalan di sudut kota. Beliau adalah pahlawan nasional yang memiliki andil luar biasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus sosok utama yang meletakkan fondasi pendidikan di tanah Timor. Di zaman sekarang, ketika anak muda sering kali dihadapkan pada pencarian identitas, mimpi tentang kesuksesan karier, hingga dorongan untuk meraih status sosial setinggi-tingginya, perjalanan hidup Izak Huru Doko menawarkan sudut pandang yang sangat menyegarkan. Kisahnya adalah potret nyata tentang bagaimana seorang anak muda daerah mampu memperjuangkan prinsip hidup dan memilih jalan pengabdian yang tulus bagi banyak orang. Kisah perjuangan Izak Huru Doko dimulai dari sebuah kesempatan langka pada masa kolonial. Sebagai anak muda asal Timor, beliau mendapatkan kesempatan berharga untuk menempuh pendidikan sekolah guru di Pulau Jawa. Di tengah keterbatasan akses pendidikan zaman penjajahan, belajar di Pulau Jawa adalah sebuah keistimewaan tersendiri. Kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk menetap di kota besar atau mengejar kenyamanan setelah lulus. Namun, Izak Huru Doko mengambil keputusan yang berbeda. Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau memilih langsung pulang ke tanah kelahirannya di Timor . Beliau menyadari bahwa ilmu yang diraihnya harus dibagikan kembali kepada masyarakat yang masih terbelakang akibat belenggu penjajahan. Lulusan sekolah guru ini pun memulai kariernya sebagai pendidik dan mengajar di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.
Langkah awal pengabdiannya mengantarkan beliau mengajar di Waingapu, Sumba. Tidak berhenti di sana, beliau melanjutkan tugas mengajarnya ke Ende di Pulau Flores, sebelum akhirnya mendedikasikan ilmunya di Kupang. Menjadi guru di daerah-daerah tersebut pada masa itu tentu menghadirkan tantangan besar, mulai dari akses transportasi yang minim hingga fasilitas sekolah yang sangat terbatas. Bagi Izaak Huru Doko, ruang kelas bukan sekadar tempat untuk mentransfer hafalan pelajaran belaka. Beliau memandang profesi guru sebagai ladang perjuangan dan alat strategis untuk membangkitkan kesadaran kolektif rakyat Timor. Di dalam kelas, beliau secara konsisten menanamkan nilai-nilai kebangsaan, rasa cinta tanah air, serta semangat anti-penjajahan kepada para muridnya agar mereka tidak pasrah pada nasib di bawah penjajahan Belanda. Perjuangan Izaak Huru Doko di dunia pendidikan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Ketika Provinsi Nusa Tenggara Timur resmi dibentuk pada tahun 1958, Izak Huru Doko diangkat menjadi Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT yang berkedudukan di Kupang. Beliau memangku jabatan penting ini dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak tahun 1958 hingga masa pensiunnya pada tahun 1971. Selama belasan tahun memimpin lembaga tersebut, beliau bekerja keras meletakkan batu pertama bagi kemajuan pendidikan di wilayah NTT. Kontribusi nyatanya dalam mendirikan serta mengelola berbagai lembaga pendidikan sangat luas:
Izaak Huru Doko terlibat langsung dalam proses pembentukan Universitas Udayana di Bali serta Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang. Beliau juga merupakan perintis dan pendiri Akademi Teologia Kupang serta Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) di Kupang. Hingga masa purnabakti, Izaak Huru Doko tetap mendedikasikan tenaga dan pikirannya dengan mengetuai Yayasan Pendidikan Kristen NTT (Yupenkris), menjadi Dekan Koordinator IKIP Malang Cabang Kupang, anggota Presidium serta Dewan Penyantun Undana Kupang, dan duduk di Dewan Penyantun APDN. Dari seluruh catatan perjalanan hidup Izak Huru Doko, ada satu hal luar biasa yang paling relevan bagi anak muda zaman sekarang: keberaniannya memegang teguh prinsip hidup di tengah godaan posisi politis dan kekuasaan. Pada masa itu, reputasi dan ketokohan Izak Huru Doko membuat banyak pihak menaruh harapan besar padanya. Partai politik Partindo pernah mengusulkan namanya untuk menjadi calon anggota Konstituante. Namun, Izak Huru Doko menolak tawaran tersebut. Alasan di balik penolakannya sangat jelas: beliau ingin fokus berkecimpung di dunia pendidikan. Godaan tersebut tidak berhenti di situ. Ketika panggung politik lokal mulai berkembang, desakan dari berbagai partai politik besar seperti Parkindo, PNI, dan partai lainnya datang bertubi-tubi. Mereka secara resmi mencalonkan Izak Huru Doko untuk menjadi gubernur pertama Provinsi NTT. Menjadi orang nomor satu di sebuah provinsi tentu menawarkan kehormatan dan kewenangan yang besar. Namun, sekali lagi, beliau menolak posisi calon gubernur tersebut dengan alasan yang sama, yaitu prioritas utamanya adalah membangun pendidikan.
Di era modern saat ini, di mana kita sering menyaksikan perlombaan meraih jabatan, popularitas, serta pengaruh, sikap yang ditunjukkan oleh Izak Huru Doko terasa sangat berharga. Kita hidup di zaman ketika kekuasaan kerap kali dikejar, sementara pengabdian yang tulus di balik layar sering kali dikesampingkan. Keputusan Izak Huru Doko menolak kursi anggota Konstituante hingga kursi Gubernur pertama NTT membuktikan bahwa bagi beliau, jabatan bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjuangan. Beliau memahami betul bahwa membangun daerah dan memerdekakan pikiran rakyat tidak selalu harus dilakukan dari atas kursi kekuasaan. Kisah Izak Huru Doko mengajarkan kita tentang arti bekerja keras tanpa peduli apakah namanya akan dielu-elukan di panggung utama. Kisah ini juga memancarkan makna pengabdian, yakni komitmen memberi manfaat bagi masyarakat dari Waingapu hingga Kupang. Dan yang paling utama, beliau memberikan teladan tentang integritas, sebuah kualitas moral di mana prinsip hidup tidak digadaikan demi godaan jabatan. Bagi anak muda masa kini, Izaak Huru Doko adalah pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan yang kita pegang, melainkan seberapa tulusnya dedikasi yang kita berikan untuk kemajuan sesama.




