Resensi Buku: Pacar Merah Indonesia (Bagian 1 & 2)
Identitas Buku
l Judul: Pacar Merah Indonesia (Buku Pertama & Buku Kedua)
l Penulis: Matu Mona / Hasbullah Parinduri
l Penerbit Cetakan Terbaru: baNANA Publisher (pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di harian Pewarta Deli tahun 1934 dan dibukukan tahun 1938)
l Tebal: 274 halaman (bagian 1) dan 237 halaman (bagian 2)
l Genre: Fiksi Sejarah / Roman Politik / Spionase
JAKARTA. Sisipublik.id - Novel Pacar Merah Indonesia adalah karya legendaris dari Matu Mona (nama pena dari Hasbullah Parinduri). Novel ini awalnya terbit sebagai cerita bersambung di harian Pewarta Deli pada tahun 1934, sebelum akhirnya dibukukan pada tahun 1938. Matu Mona menulis kisah ini berdasarkan kombinasi surat-surat, desas-desus, imajinasi liar, serta hasil pertemuan rahasianya dengan sang tokoh utama sendiri—yang saat itu masih hidup dan aktif dalam pelarian politiknya! Dalam buku pertama, Matu Mona mengawali dengan kisah sang tokoh utama Pacar Merah (Vicithra/Tan Min Kha) yang melarikan diri dari kejaran agen rahasia kolonial, berlatar tahun 1930. Kisah pelarian pertamanya dimulai dengan pengepungan kota Bangkok. Pacar Merah dibantu kekasihnya, Nona Ninon, serta rekan-rekan seperjuangannya, Pacar Merah memulai petualangan berbahaya: melintasi semenanjung Malaya, terjebak di tengah-tengah pemberontakan bersenjata di Kamboja, menyaksikan berkecamuknya perang di Shanghai, Tiongkok.
Sementara di buku kedua, cakupan geografis petualangan politik ini semakin meluas, membawa pembaca melintasi Timur Tengah hingga masuk ke jantung Uni Soviet. Pacar Merah bahkan melibatkan diri dalam pergolakan di Palestina, di mana dia berjuang bersama Bangsa Arab menghadapi kelompok Yahudi yang didukung oleh Inggris. Di sepanjang pelariannya, misi utama Pacar Merah tidak pernah berubah: menggerakkan serikat buruh demi kemerdekaan tanah airnya. Hal yang menarik dari novel Pacar Merah Indonesia ini adalah penulis hidup sejaman dengan tokoh-tokoh yang ditulisnya. Tidak mengherankan, jika membaca buku ini, kita seperti membaca buku sejarah yang terjadi saat itu. Bahkan, nama-nama tokoh selain Pacar Merah, sangat lekat dengan nama tokoh-tokoh pergerakan Bangsa Indonesia saat itu. Seperti: Ivan Alminsky (Alimin), Paul Musotte (Muso), Semounoff (Semaun), Darsonoff (Darsono). Sementara Pacar Merah dikaitkan dengan nama Tan Malaka, tokoh pergerakan yang disebut sebagai Bapak Republik. Ada yang menyebutkan, penyamaran nama-nama ini untuk menghindari sensor dari pemerintah kolonial saat itu.
Dalam buku kedua, Matu Mona secara detail menceritakan kisah Pacar Merah berjuang bersama Bangsa Arab di Palestina dalam menghadapi kedatangan Bangsa Yahudi yang didukung oleh pemerintah Inggris. Di situ diuraikan bagaimana Bangsa Yahudi dan Inggris memiliki perjanjian kerjasama, di sisi lain Inggris juga didukung Bangsa Arab ketika berperang melawan Pemerintahan Turki Utsmani. Keterlibatan Pacar Merah bersama Bangsa Arab di Palestina menunjukkan dukungan Bangsa Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina sudah memiliki akar sejak jaman dulu. Meskipun diceritakan dalam bentuk novel fiksi.
Salah satu poin mengapa buku ini menjadi relevan adalah keberhasilannya memperlihatkan relasi yang sangat kuat antara anak muda dan aktivitas politik:
Tokoh-tokoh muda pergerakan—seperti Tan Malaka, Alimin, Muso, Darsono, dan Semaun—digambarkan sebagai aktor aktif dalam jaringan politik internasional. Mereka mengorganisasi serikat buruh dan menggalang gerakan massa demi cita-cita kemerdekaan tanah air. Perjuangan politik anak muda dalam novel ini tidak sekadar berupa wacana kaku, melainkan diisi dengan keberanian, aksi spionase, tipu muslihat, dan penyamaran tingkat tinggi di tengah kejaran dinas rahasia kolonial. Matu Mona menjadi pionir dalam mengemas pemikiran politik yang berat dan rekam jejak sejarah ke dalam bentuk roman spionase yang populer dan memikat. Ini membuktikan bahwa politik dapat dikomunikasikan secara kreatif kepada kaum muda melalui media fiksi populer.
Karena buku ini ditulis pada tahun 1930-an, pembaca di era sekarang mungkin memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan struktur kalimat lama dan kosakata klasik. Selain itu, penulis memasukkan desas-desus urban dan sedikit unsur kemampuan gaib/mistis, sehingga terkadang mengaburkan batas antara fakta sejarah murni dan fiksi murni. Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona bukan sekadar roman petualangan biasa, melainkan sebuah dokumen literasi politik yang sangat berharga. Buku ini sangat direkomendasikan bagi anak muda dan pencinta fiksi sejarah yang ingin memahami dinamika perjuangan kemerdekaan dengan cara yang penuh aksi dan relevan




