Sisi Persona

Mama Aleta Baun dan Kemerdekaan yang Mengakar di Bumi Mollo

Artikel ini mengulas perjuangan Mama Aleta Baun dari Pegunungan Mollo, NTT, dalam merebut kembali kedaulatan lingkungan dari ancaman tambang marmer. Melalui tenun budaya dan keteguhan perempuan Mollo, ia membuktikan bahwa kemerdekaan sejati adalah merawat "Ibu Bumi" demi keberlangsungan generasi bangsa.

11 Agustus 2026•2 Kali Dilihat
Oleh: MG
Mama Aleta

Kredit: mamaaleta.org

JAKARTA. Sisipublik.id - Merayakan delapan dekade kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar urusan mengibarkan Merah Putih di tiang tertinggi, melainkan tentang menakar kembali sejauh mana kita berdaulat atas tanah dan air yang menyusun raga bangsa ini. Di jantung Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pegunungan Mollo, kedaulatan bukanlah jargon politik yang riuh di ibu kota, melainkan denyut nadi yang dipertaruhkan di bawah bayang-bayang buldoser. Mollo adalah  jantung ekologis  Pulau Timor; sebuah daerah tangkapan air raksasa yang memasok kehidupan bagi ribuan jiwa hingga ke hilir. Namun, selama bertahun-tahun, sebuah narasi pembangunan tunggal mencoba memaksakan logika bahwa kemajuan hanya bisa dicapai melalui penambangan marmer. Secara teknis, logika ini adalah sebuah manipulasi: jika 3,5 triliun meter kubik marmer di 63 gunung tersebut dikeruk habis demi keuntungan jangka pendek, maka kekeringan permanen akan mencekik seluruh pulau.
Di sinilah Mama Aleta Baun hadir, membedah filter logika tersebut dengan satu kebenaran sederhana,yakni kemajuan yang membunuh sumber kehidupan bukanlah kemajuan, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan. Perlawanan masyarakat Mollo adalah anatomi dari sebuah kebijakan politik yang kaku dan buta terhadap manusia marjinal. Ketika izin tambang dikeluarkan melalui perundingan elit dan pendekatan terhadap para raja yang setuju, rakyat kecil, terutama kaum perempuan, justru menjadi pihak pertama yang tergilas. Mama Aleta menerjemahkan luka tanah ini melalui filosofi suku Timor yang menggetarkan: batu adalah tulang, air adalah darah, hutan adalah urat nadi, dan tanah adalah daging. Baginya, merusak gunung berarti mematahkan tulang tubuh mereka sendiri. Strategi politik radikal kemudian lahir dari rahim kearifan lokal. Selama setahun penuh, 150 perempuan Mollo menduduki lokasi tambang. Di tengah deru mesin-mesin industri yang dingin dan mengancam, terdengar bunyi ritmis 
gedog  dari alat tenun kayu. Mereka  menenun di depan pintu tambang, membentangkan kain tradisional sebagai barikade budaya yang tak bisa ditembus peluru. Aksi ini membalikkan peran domestik; para pria tinggal di rumah untuk mengasuh anak dan memasak, sementara para mama menjaga "Ibu Bumi".
Perjuangan ini menuntut harga yang sangat mahal bagi Mama Aleta secara pribadi. Ia pernah dibacok di kaki kanan, diintimidasi preman, hingga harus mengungsi ke hutan bersama bayinya yang baru berusia dua bulan demi memimpin 
Organisasi Ataimamus  (OAt). Di balik drama perlawanan fisik yang heroik, tersimpan data tajam mengenai hubungan antara kerusakan alam dan kerentanan perempuan. Mama Aleta secara jernih melihat bahwa kehancuran lingkungan adalah hulu dari meningkatnya angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan krisis pangan. Ketika mata air mengering dan hutan gundul, beban domestik perempuan berlipat ganda karena mereka harus berjalan lebih jauh mencari air dan bahan pangan. Stres ekonomi yang hebat di tingkat akar rumput inilah yang memicu konflik sosial dan kekerasan terhadap perempuan. Sebagai antitesis, masyarakat Mollo menghidupkan kembali  Lopo Mollo , lumbung pangan tradisional di mana para perempuan memegang kendali strategis atas benih lokal dan cadangan pangan. Pada puncak kegeramannya, para perempuan Mollo melakukan aksi simbolis yang paling radikal: mengeluarkan payudara. Ini bukanlah protes seksual, melainkan sebuah pernyataan puitis sekaligus menyakitkan bahwa "Ibu Bumi sedang diperkosa". Mereka ingin menegaskan bahwa jika payudara bumi, gunung dan mata air dihancurkan, maka alam tidak akan pernah bisa menyusui lagi dan generasi mendatang akan mati dalam kerontangan.Jika dahulu tenunan adalah senjata di depan moncong buldoser, kini tenunan itu bertransformasi menjadi jaring pengaman sistemik bernama  Mama Aleta Fund  (MAF). Didirikan sebagai dana abadi dari seluruh hadiah uang  Goldman Environmental Prize  2013, MAF menjadi bukti transparansi dan dedikasi total Mama Aleta yang enggan menikmati kemewahan pribadi di atas penderitaan tanahnya. MAF bergerak melalui tiga pilar utama:  Nausus-Lulbas  yang mendukung tokoh perempuan pejuang dan melatih anak muda sebagai pewarta sosial;  Olif Tataf  yang membangun persahabatan internasional melalui  fair trade  dan festival; serta pengelolaan pengetahuan yang mendalam.
Di sinilah regenerasi kepemimpinan dirajut melalui filosofi rumah adat 
Uim bubu. Struktur rumah ini adalah miniatur semesta:  amnesat  (dasar) melambangkan  oekanaf  (air),  nij  (tiang) melambangkan  afu  (tanah), dan  tefi  (atap) adalah hasil jerih payah dari pemanfaatan air, batu ( fatukanaf ), dan kayu (haukanaf). MAF mengajarkan anak muda bahwa merusak satu elemen alam sama saja dengan meruntuhkan rumah tempat mereka berteduh. Menapaki usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, kisah dari pegunungan Timor ini menegaskan bahwa pahlawan masa kini adalah mereka yang menjaga warna hijau Nusantara agar tetap abadi. Kedaulatan sejati bukan hanya tentang batas wilayah di atas peta, melainkan tentang hak setiap perempuan dan masyarakat adat untuk merawat ruang hidupnya tanpa ketakutan. Kemenangan Mama Aleta yang membuat perusahaan tambang hengkang secara resmi pada 2010 adalah kemenangan bagi nurani bangsa. Sebagaimana pesan kuat yang selalu ia gaungkan, keutuhan alam adalah tanggung jawab kolektif  yang tidak bisa ditawar. Menjaga air tetap mengalir dan batu tetap kokoh di tempatnya adalah bentuk patriotisme tertinggi. Sebab kedaulatan negara di usia senja ini hanya akan bermakna jika kita masih memiliki bumi yang cukup sehat untuk menyusui anak cucu kita di masa depan. Kemerdekaan yang sejati adalah kemerdekaan yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan rimbunnya menaungi setiap nyawa yang lahir di atasnya.

Artikel Terkait

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Ada anak presiden yang memilih hidup di bawah bayang-bayang nama ayahnya. Ada pula yang mencoba membangun ruangnya sendiri. Guruh Soekarnoputra berada di antara keduanya.

29 Sep 2026
Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Ada beberapa kebijakan Muhammad Bobby Afif Nasution, sejak menjabat Wali Kota Medan hingga sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara, yang mendapat atensi dari warganet di berbagai platform media sosial. Kebijakan yang mendapat apresiasi publik antara lain: digitalisasi sistem E-Parking non-tunai, akselerasi proyek Bendungan Lau Simeme, serta penjaminan layanan kesehatan gratis melalui program UHC Prioritas. Kita berharap, kombinasi formulasi kebijakan berbasis data, transparansi, serta pola komunikasi digital yang responsif, program kerja Pemprov Sumut memberikan dampak langsung bagi bagi masyarakat.

21 Sep 2026
Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah ikon integritas Polri yang melegenda karena keberaniannya menolak suap dan menghapus hak istimewa ( privilege ) dalam penegakan hukum. Di tengah badai korupsi 2026 yang menjerat Jampidsus Febri Adriansyah dan belasan kepala daerah, kisah mantan Kapolri (1968-1971) ini kembali viral sebagai standar moral bagi generasi muda. Kejujuran , penolakan suap , dan pemutusan konflik kepentingan adalah warisan utama beliau.

15 Sep 2026
Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Perjalanan hidup dan perjuangan Izaak Huru Doko, pahlawan nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meletakkan fondasi pendidikan di tanah Timor. Setelah menempuh pendidikan guru di Jawa, ia memilih kembali ke NTT untuk mengajar, menanamkan jiwa nasionalisme, serta memelopori pendirian pelbagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Di tengah maraknya perburuan kekuasaan, Izaak Huru Doko memberikan teladan integritas dengan berani menolak tawaran posisi politik strategis seperti anggota Konstituante hingga calon gubernur pertama NTT, demi memprioritaskan pengabdian dan pembangunan dunia pendidikan.

10 Sep 2026