Sisi Hiburan

Membaca Diaspora, Identitas dan Ingatan dari Sebuah Kota

Judul Buku: Orang-Orang Adelaide Penulis: Priyambudi Sulistiyanto Penerbit: Diomedia Genre: Nonfiksi/Esai Perjalanan, Memoar Sosial, Catatan Diaspora Objek Kajian: Pengalaman Orang Indonesia di Adelaide, Australia

13 Agustus 2026•71 Kali Dilihat
Oleh: MG
Orang-Orang Adelaide

Kredit: diomedia.id

JAKARTA, Sisipublik.id - Buku Orang-Orang Adelaide karya Priyambudi Sulistiyanto sangat menarik untuk dibaca karena membawa pembaca mengunjungi sebuah kota tidak sekadar dari arsitekturnya, melainkan melalui pemahaman mendalam tentang manusianya. Adelaide dalam buku ini tidak semata-mata berfungsi sebagai latar geografis, melainkan menjadi ruang sosial tempat orang-orang Indonesia bertemu dengan pengalaman menjadi pendatang, membangun komunitas, berhadapan dengan kebudayaan berbeda, mempertahankan ingatan tanah asal, sekaligus menemukan kembali identitas diri.

Judul Orang-Orang Adelaide sebenarnya mengandung pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar "Siapa saja yang tinggal di Adelaide?". Buku ini mempersoalkan apa yang terjadi pada identitas seseorang ketika ia meninggalkan tanah kelahirannya. Pertanyaan fundamental tersebut membawa karya ini keluar dari genre catatan perjalanan biasa dan memasukkannya ke dalam wilayah kajian diaspora, migrasi, identitas budaya, serta memori sosial.

Membaca Orang-Orang Adelaide tanpa memahami latar belakang intelektual Priyambudi Sulistiyanto akan membuat sebagian dimensi buku ini terlewat. Priyambudi bukan sekadar orang Indonesia yang pernah tinggal di Australia, melainkan seorang akademisi ilmu politik yang memperoleh PhD dari University of Adelaide dengan pengalaman panjang dalam penelitian politik, masyarakat, demokrasi, regionalisme, dan Indonesia. Dalam karyanya yang lain, Indonesia dalam Pusaran Politik Regional, Priyambudi secara terbuka menggambarkan perjalanan "perantauan" fisik dan intelektualnya saat meninggalkan Yogyakarta untuk menjalani kehidupan akademik di Adelaide, Thailand, Myanmar, Singapura, lalu kembali lagi ke Adelaide. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai proses belajar langsung dari para akademisi, aktivis, hingga masyarakat biasa di Indonesia, Asia Tenggara, dan Australia.

Latar belakang tersebut penting karena menunjukkan bahwa perspektif Priyambudi terhadap Adelaide bukanlah sudut pandang seorang turis, melainkan sudut pandang seorang saksi sekaligus pelaku yang hidup di dalam ruang sosial tersebut. Dari pengalaman itulah, Kota Adelaide dibaca bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan sebagai ruang perjumpaan manusia. Tentu sangat beralasan ketika penulis menggunakan kata "orang-orang" dalam judul bukunya. Secara hermeneutik, pilihan tersebut dapat dibaca sebagai usaha memindahkan fokus perhatian dari ruang geografis kepada manusianya, sehingga Adelaide tidak menjadi pusat cerita, melainkan manusialah yang menjadi poros utamanya. Di atas panggung kota tersebut, hadir beragam manusia dengan pengalaman, kelas sosial, latar belakang, kepentingan, ingatan, dan identitas yang berbeda-beda, menjadikan buku ini dapat dibaca sebagai sebuah studi mikrososiologi diaspora tempat diaspora tak lagi dipahami sebagai angka statistik, melainkan sebagai pengalaman nyata manusia.
Dalam kajian diaspora kontemporer, identitas tidak dipandang sebagai sesuatu yang statis atau benda mati yang dibawa seseorang dari Indonesia lalu tetap sama ketika tiba di Australia. Orang Indonesia di Australia terus-menerus berhadapan dengan pertanyaan refleksif: "Siapa saya?", "Apakah saya orang Indonesia?", "Apakah saya orang Australia?", "Apakah saya orang Indonesia yang tinggal di Australia?", atau "Apakah saya seseorang dengan identitas di antara keduanya?". Di sinilah pemikiran Stuart Hall tentang identitas menjadi sangat relevan, di mana Hall memandang identitas bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya sudah selesai, melainkan sebagai proses becoming (menjadi). Dalam kerangka tersebut, fenomena diaspora justru menghasilkan identitas yang lebih kompleks; seseorang dapat membawa keindonesiaan dalam dirinya tanpa harus sepenuhnya menjadi "Indonesia" seperti saat ia berada di tanah airnya. Ia juga dapat hidup di Australia tanpa harus menjadi sepenuhnya "Australia", sehingga lahirlah konsep identitas hibrida dengan Adelaide sebagai ruang tempat identitas tersebut dinegosiasikan.

Selain Stuart Hall, perspektif Homi K. Bhabha mengenai third space (ruang ketiga) juga sangat tepat digunakan untuk membaca buku ini. Third space merupakan ruang artikulasi di antara dua kebudayaan tempat identitas baru dinegosiasikan. Orang Indonesia di Adelaide berada dalam posisi yang menarik karena mereka membawa bahasa, makanan, agama, kebiasaan, humor, nilai keluarga, dan tradisi, namun tetap hidup dalam struktur sosial Australia. Pertemuan tersebut menghasilkan kebudayaan baru yang bukan Indonesia sepenuhnya dan bukan pula Australia sepenuhnya, melainkan sesuatu yang lahir dari perpaduan keduanya. Komunitas Indonesia di Adelaide tidak semata-mata menjadi "perpanjangan Indonesia di Australia", melainkan tumbuh menjadi ruang budaya baru tempat identitas terus diuji dan diolah.
Salah satu persoalan terbesar dalam kehidupan diaspora adalah kehilangan ruang sosial yang familiar. Ketika seseorang meninggalkan tanah kelahirannya, ia kehilangan banyak hal yang sebelumnya dianggap lumrah, seperti bahasa sehari-hari, kuliner lokal, humor khas, cara berkomunikasi, ritual, hingga jaringan sosial pendukung. Hal-hal tersebut baru terasa krusial ketika seseorang berada jauh darinya, sehingga komunitas diaspora kemudian mengambil alih peran penting sebagai sebuah "rumah sosial". Dalam perspektif sosiologi, komunitas semacam ini mampu menghasilkan modal sosial (social capital), di mana hubungan antarmanusia menciptakan rasa saling percaya, jaringan pertolongan, dan perasaan saling memiliki. Dengan demikian, orang Indonesia di Adelaide tidak hanya membangun kehidupan individual, tetapi juga membentuk sebuah dunia sosial baru.

Hal menarik lainnya dalam pengalaman diaspora adalah kenyataan bahwa "tanah air" tidak selalu terikat pada lokasi geografis, melainkan sering kali hidup di dalam ingatan. Seseorang yang berada ribuan kilometer dari Indonesia dapat tiba-tiba merasa "pulang" hanya karena mencium aroma masakan tertentu. Berdasarkan perspektif Maurice Halbwachs, ingatan manusia selalu memiliki dimensi sosial; kita mengingat bukan hanya sebagai individu, melainkan melalui kelompok sosial tempat kita hidup. Oleh karena itu, komunitas diaspora berperan penting dalam merawat memori kolektif tentang Indonesia yang nantinya diwariskan lintas generasi. Anak-anak Indonesia yang lahir atau tumbuh di Australia dapat mengenali tanah leluhurnya bukan semata melalui pengalaman langsung, melainkan lewat cerita orang tua, kuliner, bahasa, ritual, dan aktivitas komunitas, menjadikan diaspora sebagai semacam arsip hidup kebudayaan.

Hal ini sejalan dengan kepedulian Priyambudi terhadap "orang biasa". Dalam sebuah profil mengenai dirinya, ia pernah menyoroti bagaimana narasi desentralisasi terlalu didominasi oleh wacana elit dan pusat, sementara suara warga biasa seperti tukang becak, seniman jalanan, serta pedagang pasar kurang memperoleh ruang. Orientasi pemikiran tersebut membantu menjelaskan mengapa manusia biasa menjadi subjek yang sangat penting dalam membaca pengalaman di Adelaide. Salah satu kekuatan utama dari buku Orang-Orang Adelaide terletak pada kemampuannya untuk mengajak pembaca melihat diaspora sebagai manusia, bukan sekadar deretan angka statistik. Buku semacam ini menjadi penting di tengah wacana migrasi yang kerap terlalu cepat mereduksi pengalaman manusia menjadi data kuantitatif. Tentu saja, sebagai karya yang bertumpu pada pengalaman dan observasi personal, buku ini tidak dapat diperlakukan seperti penelitian kuantitatif baku. Ia memiliki sifat situated knowledge—sebuah pengetahuan yang lahir dari posisi dan sudut pandang tertentu—sebab pengalaman personal penulis tidak secara otomatis mewakili seluruh dinamika diaspora Indonesia di Australia.

Artikel Terkait

Literasi Politik Anak Muda Melalui Roman Sejarah

Literasi Politik Anak Muda Melalui Roman Sejarah

Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona adalah karya fiksi sejarah legendaris yang menceritakan petualangan politik dan spionase tokoh-tokoh pergerakan nasional di kancah internasional. Resensi ini mengulas bagaimana novel klasik ini berhasil mengenalkan literasi politik dan semangat kemerdekaan kepada anak muda melalui roman populer yang penuh aksi.

28 Sep 2026
Makna Indah Sebuah Penantian Carrier Pidge dan Dunia yang Lelah dengan Kecepatan

Makna Indah Sebuah Penantian Carrier Pidge dan Dunia yang Lelah dengan Kecepatan

Ada masa ketika manusia harus menunggu berhari-hari untuk sebuah kabar. Surat ditulis dengan tangan, dimasukkan ke dalam amplop, dibawa kendaraan, atau bahkan diterbangkan oleh burung merpati. Tidak ada tanda typing, tidak ada centang dua, tidak ada notifikasi “seen”. Kabar datang ketika memang sudah waktunya datang.

1 Sep 2026
Demokrasi Tanpa Kompetisi

Demokrasi Tanpa Kompetisi

Judul Buku : Daerah Calon Tunggal: Tantangan dan Refleksi Demokrasi Jawa Timur Penulis : KPU Jawa Timur Tahun Terbit : 2026

19 Agu 2026
No Na, HITC 2026, dan Mimpi Indonesia

No Na, HITC 2026, dan Mimpi Indonesia

Di tengah hiruk-pikuk musik pop global yang selama bertahun-tahun didominasi nama-nama besar dari Korea Selatan, Jepang, dan China, sebuah suara baru datang dari arah yang berbeda.

12 Agu 2026