Sisi Hiburan

Membangun Neraka Dari Duka

Judul : Evil Dead Burn Tahun : 2026 Genre : Horor, thriller/misteri, gore Sutradara: Sébastien Vaniček Penulis: Sébastien Vaniček dan Florent Bernard (FloBer) Produser: Sam Raimi dan Rob Tapert Pemain: Souheila Yacoub, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Tandi Wright, Erroll Shand, George Pullar, dan lainnya Durasi: 110 menit Produksi: Ghost House Pictures, New Line Cinema, Screen Gems Distributor: Warner Bros. Pictures

30 Juli 2026•2 Kali Dilihat
Oleh: MG
Evil Dead Burn

Kredit: Kinocheck

Jakarta. Sisipublik.id - Dalam banyak film horor, keluarga biasanya digambarkan sebagai tempat perlindungan utama—ketika dunia luar menjadi berbahaya, manusia akan kembali ke rumah. Namun, Evil Dead Burn membalik logika tersebut secara ekstrem. Di film ini, rumah justru menjadi tempat di mana hubungan keluarga mengalami kehancuran fatal. Kematian sosok Will bukan hanya menjadi pembuka cerita, melainkan pintu masuk menuju konflik emosional dan teror yang jauh lebih besar. Alice yang datang dalam keadaan rapuh harus menghadapi dunia yang tidak memberinya sedikit pun kesempatan untuk berduka.

Film ini merupakan bagian keenam dari waralaba populer Evil Dead dan menjadi karya penting bagi sutradara asal Prancis, Sébastien Vaniček, yang sebelumnya sukses menyutradarai Infested (2023). Di balik layar, ada nama besar Sam Raimi sebagai pencipta dunia Evil Dead bersama Rob Tapert yang bertindak sebagai produser. Film ini berfokus pada sosok Alice yang diperankan oleh Souheila Yacoub, seorang perempuan yang baru saja kehilangan suaminya, Will. Dalam kondisi berduka, Alice mendatangi keluarga mendiang suaminya dengan harapan menemukan ketenangan dan saling menguatkan bersama keluarga yang ditinggalkan.

Namun, rumah yang seharusnya menjadi tempat berkumpul dan merawat duka justru berubah menjadi ruang teror yang mengerikan. Satu demi satu anggota keluarga mulai terinfeksi kekuatan iblis dan berubah menjadi Deadites—makhluk kerasukan yang menjadi ikon utama waralaba Evil Dead. Alice kemudian harus berjuang keras demi bertahan hidup di tengah kepungan keluarga yang perlahan berubah menjadi ancaman mematikan. Menariknya, Evil Dead Burn tidak memulai terornya secara terburu-buru; film ini terlebih dahulu menempatkan penonton dalam situasi emosional yang intim tentang kematian, duka, dan pertemuan yang seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi.

Sebagaimana tradisi khas Evil Dead, kedamaian itu tidak pernah benar-benar bertahan lama. Duka dengan cepat berubah menjadi ketakutan, keluarga bertransformasi menjadi ancaman, dan rumah perlindungan berubah menjadi perangkap maut. Film ini tetap mempertahankan DNA asli Evil Dead: kehadiran Deadites, fenomena kerasukan, kekerasan ekstrem, tubuh manusia yang dijadikan medan horor, serta adegan-adegan yang sengaja dirancang untuk memicu rasa tidak nyaman. Namun, jika dibandingkan dengan trilogi awal Sam Raimi yang kental dengan unsur horor dan komedi slapstick, Evil Dead Burn bergerak lebih dekat ke wilayah horor tubuh (body horror) dan teror psikologis yang kelam.

Keberanian Sébastien Vaniček untuk tidak sekadar mengulang formula lama menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Vaniček yang sebelumnya dikenal lewat Infested—film horor Prancis tentang serangan laba-laba yang intens—berhasil membawa keahliannya dalam membangun rasa terperangkap dan claustrophobia fisik ke skala yang lebih besar. Dalam Evil Dead Burn, horor tidak hanya disajikan lewat visual yang tampak di layar, melainkan juga melalui rasa sesak dari ketidakadaan jalan keluar. Film ini dapat dibaca sebagai metafora mengenai cara manusia menghadapi kehilangan: tentang mereka yang mampu menerima kematian dan mereka yang terjebak di dalamnya. Duka yang tidak terselesaikan terbukti dapat menjelma menjadi kemarahan, ketakutan, dan kehancuran yang disampaikan bukan lewat perdebatan filosofis, melainkan melalui darah, tubuh, dan kekerasan khas Evil Dead.


Souheila Yacoub dan Perubahan Karakter Alice

Penampilan Souheila Yacoub menjadi salah satu pusat kekuatan utama film ini. Karakter Alice tidak dirancang sebagai figur pahlawan horor yang sejak awal pemberani dan tidak memiliki rasa takut. Ia masuk ke dalam jalan cerita sebagai sosok yang sedang hancur akibat kehilangan, sehingga dinamika perkembangan karakternya terasa sangat krusial. Alice tidak hanya bertarung untuk menyelamatkan diri dari serangan Deadites, tetapi juga harus menerima kenyataan pahit bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar telah berubah menjadi ancaman mematikan. Konflik batin ini memberikan dimensi emosional yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar narasi klasik "manusia melawan monster".

Bagi para penggemar setia Evil Dead, tingkat kekerasan yang tinggi bukanlah hal yang mengejutkan. Namun, Evil Dead Burn membawa intensitas kekerasan tersebut ke tingkat yang lebih ekstrem. Respons kritikus di platform Rotten Tomatoes terbilang cukup positif, dengan konsensus yang memuji film ini sebagai salah satu bab paling kejam dan menjijikkan dalam sejarah waralaba. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa intensitas gore yang disajikan secara terus-menerus berisiko kehilangan daya kejutnya akibat pemakaian yang terlalu massif.

Elemen kekerasan dalam film ini berfungsi sebagai pisau bermata dua: ketika dieksekusi dengan tepat, kekerasan berhasil membuat penonton merasa terancam secara nyata; tetapi ketika dieksploitasi berlebihan, visualisasi tubuh manusia di layar bisa kehilangan bobot emosionalnya dan terdegradasi menjadi sekadar tontonan visual semata. Evil Dead Burn beruntung karena pada beberapa momen penting, kekerasan yang dihadirkan tetap terikat erat dengan dinamika hubungan antarkarakter. Kendati demikian, di beberapa bagian film ini memang terasa sengaja menguji batas ketahanan penonton dalam menyaksikan penderitaan fisik di layar lebar.

Pada akhirnya, Evil Dead Burn bukanlah tipe film yang bertujuan membuat penontonnya merasa nyaman. Film ini sengaja dirancang untuk membuat penonton merasa terjebak—terjebak bersama keluarga yang dirundung duka, terkurung di dalam rumah yang kehilangan fungsi perlindungannya, dan terisolasi bersama orang-orang yang perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya. Di balik tumpahan darah dan ancaman Deadites, film ini menyuarakan esensi yang sangat manusiawi: trauma akibat kehilangan orang tercinta serta ketakutan membentang dalam menghadapi dunia setelah kepulangan mereka.

Dengan pendekatan horor yang lebih psikologis, brutal, dan dekat dengan trauma manusia, Evil Dead Burn berhasil membawa waralaba ini ke babak yang lebih gelap dan dewasa. Walau tidak lagi mengusung humor liar ala era Sam Raimi, film ini menawarkan pengalaman teror yang intens. Bagi pencinta genre horor ekstrem dan body horror, film ini menjadi sajian yang sangat direkomendasikan untuk dinikmati di layar lebar, sementara bagi penonton yang sensitif terhadap kekerasan visual grafis, film ini jelas membutuhkan kesiapan mental sebelum menonton.***

Artikel Terkait

Literasi Politik Anak Muda Melalui Roman Sejarah

Literasi Politik Anak Muda Melalui Roman Sejarah

Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona adalah karya fiksi sejarah legendaris yang menceritakan petualangan politik dan spionase tokoh-tokoh pergerakan nasional di kancah internasional. Resensi ini mengulas bagaimana novel klasik ini berhasil mengenalkan literasi politik dan semangat kemerdekaan kepada anak muda melalui roman populer yang penuh aksi.

28 Sep 2026
Makna Indah Sebuah Penantian Carrier Pidge dan Dunia yang Lelah dengan Kecepatan

Makna Indah Sebuah Penantian Carrier Pidge dan Dunia yang Lelah dengan Kecepatan

Ada masa ketika manusia harus menunggu berhari-hari untuk sebuah kabar. Surat ditulis dengan tangan, dimasukkan ke dalam amplop, dibawa kendaraan, atau bahkan diterbangkan oleh burung merpati. Tidak ada tanda typing, tidak ada centang dua, tidak ada notifikasi “seen”. Kabar datang ketika memang sudah waktunya datang.

1 Sep 2026
Demokrasi Tanpa Kompetisi

Demokrasi Tanpa Kompetisi

Judul Buku : Daerah Calon Tunggal: Tantangan dan Refleksi Demokrasi Jawa Timur Penulis : KPU Jawa Timur Tahun Terbit : 2026

19 Agu 2026
Membaca Diaspora, Identitas dan Ingatan dari Sebuah Kota

Membaca Diaspora, Identitas dan Ingatan dari Sebuah Kota

Judul Buku: Orang-Orang Adelaide Penulis: Priyambudi Sulistiyanto Penerbit: Diomedia Genre: Nonfiksi/Esai Perjalanan, Memoar Sosial, Catatan Diaspora Objek Kajian: Pengalaman Orang Indonesia di Adelaide, Australia

13 Agu 2026