JAKARTA, SISIPUBLIK.ID — Model bisnis media digital sedang mengalami perubahan. Ketika pendapatan iklan konvensional semakin sulit diandalkan, media baru dituntut mencari sumber pemasukan sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens. Salah satu peluang yang mulai mendapat perhatian adalah munculnya news creator, yakni kreator yang memproduksi dan mendistribusikan konten berita melalui berbagai platform digital. Gagasan tersebut menjadi pokok bahasan dalam Diskusi Bulanan bertajuk “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi New Media” yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Selasa (29/9/2026), di Hall Dewan Pers, Jakarta.
Diskusi yang menghadirkan Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika, Rektor Universitas Multimedia Nusantara Dr. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D., serta Rochmadin Ismail, Pemimpin Redaksi Tirto.id, dipandu oleh Citra Dyah Prastuti, Wakil Ketua Umum AMSI. Pembahasan mengenai news creator muncul di tengah perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Audiens tidak lagi hanya datang ke laman media untuk membaca berita, tetapi menemukan informasi melalui video pendek, podcast, media sosial, live streaming, hingga berbagai format konten yang dikembangkan kreator.
Perubahan itu sekaligus menggeser pertanyaan penting bagi perusahaan media: bagaimana perhatian audiens dapat dikonversi menjadi model bisnis yang berkelanjutan? Kehadiran news creator membuka kemungkinan bagi media untuk tidak hanya menjual ruang iklan, tetapi juga membangun personal brand, komunitas, dan kedekatan dengan audiens. Dalam ekosistem seperti ini, seorang jurnalis atau kreator berita tidak lagi semata-mata menjadi produsen informasi untuk kanal redaksi. Mereka dapat menjadi wajah media yang memiliki basis audiens sendiri.
Perubahan tersebut membuat hubungan antara media, jurnalis, kreator, dan audiens menjadi semakin cair.
Media dapat mengembangkan konten yang sama ke dalam berbagai format. Sebuah laporan jurnalistik, misalnya, dapat dikembangkan menjadi artikel, video pendek, podcast, diskusi live, maupun konten media sosial. Dengan demikian, nilai ekonomi sebuah produk jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh jumlah pembaca artikel, tetapi juga oleh seberapa kuat konten tersebut membangun engagement dan komunitas audiens. Namun, perkembangan news creator juga menghadirkan tantangan baru. Ketika kreator menjadi bagian penting dari strategi bisnis media, batas antara konten jurnalistik, personal branding, dan kepentingan komersial harus dikelola secara hati-hati.
Model revenue berbasis kreator membawa media pada persoalan klasik: bagaimana menghasilkan uang tanpa mengorbankan kredibilitas jurnalistik. News creator yang memiliki basis pengikut besar memang memiliki nilai komersial. Tetapi nilai tersebut tidak otomatis identik dengan kualitas jurnalistik. Media tetap harus memastikan prinsip verifikasi, keberimbangan, transparansi, dan kepentingan publik tidak hilang ketika konten berita dikemas untuk mengejar engagement. Di sinilah model news creator menjadi lebih dari sekadar strategi pemasaran. Ia menyentuh perubahan struktur industri media secara keseluruhan.
Media baru tidak cukup hanya memiliki website dan akun media sosial. Mereka perlu memahami bagaimana audiens bergerak, bagaimana komunitas terbentuk, dan bagaimana produk jurnalistik dapat dikembangkan menjadi ekosistem bisnis tanpa kehilangan fungsi publiknya. Diskusi AMSI dan UMN tersebut pada akhirnya memperlihatkan satu perubahan penting dalam industri media: masa depan media digital mungkin tidak hanya berada pada ruang redaksi, tetapi juga pada kemampuan media membangun kreator dan komunitas di sekitar produk jurnalistiknya.
Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan traffic, melainkan bagaimana mengubah perhatian publik menjadi kepercayaan, komunitas, dan revenue—tanpa menjadikan kepentingan bisnis mengendalikan kerja jurnalistik.***




