JAKARTA, Sisipublik.id - Kini, dari sebuah panggung musik di luar negeri, sesuatu perlahan berubah. Empat perempuan muda berdiri membawa nama Indonesia dalam sebuah kelompok musik bernama No Na. Formasi grup ini diisi oleh Esther Geraldine, Baila Fauri, Christy Gardena, dan Shazfa Adesya, yang tidak sekadar hadir sebagai grup vokal perempuan baru. Keempat perempuan tersebut berdiri di persimpangan antara Indonesia dan industri musik global. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka dipertemukan oleh satu proyek yang membawa nama Indonesia ke panggung internasional.
No Na diperkenalkan oleh label 88rising pada April 2025 dan resmi melakukan debut pada 2 Mei pada tahun yang sama. Sejak awal, identitas Indonesia sudah menjadi bagian penting dari cara No Na diperkenalkan kepada publik. Teaser debut mereka menampilkan lanskap alam Indonesia—seperti laut, kapal, dan ruang terbuka—serta lantunan bunyi gamelan yang kemudian bertransformasi menjadi musik modern. Di bawah naungan 88rising, No Na sedang membawa sebuah gagasan yang lebih besar, yaitu bahwa Indonesia tidak harus meniru cara dunia mendefinisikan musik Asia untuk bisa didengar secara global.
Pada 2026, perjalanan No Na membawa mereka ke salah satu panggung penting dalam ekosistem musik Asia dan global: Head in the Clouds (HITC). Festival yang lahir dari ekosistem 88rising ini selama bertahun-tahun telah menjadi ruang pertemuan bagi musisi Asia, diaspora Asia, dan audiens internasional untuk menemukan panggung yang lebih luas. Penampilan No Na di ajang HITC, mulai dari Tokyo hingga Los Angeles, berada di ruang yang memiliki makna khusus. Di HITC Tokyo pada 28 Maret 2026 lalu, No Na berkesempatan tampil berbagi panggung dengan berbagai nama besar dari Asia dan dunia. Sementara itu, pada 8 Agustus 2026 di Los Angeles—kota yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pusat industri hiburan dunia—No Na berhasil membawa nama Indonesia ke panggung dengan audiens dari beragam latar belakang.
Sekilas, ini mungkin tampak seperti berita biasa tentang grup musik yang tampil di festival internasional. Namun, jika dilihat lebih jauh, ada cerita yang jauh lebih besar di baliknya. Media The Jakarta Post bahkan menempatkan No Na dalam gelombang baru musik Asia Tenggara bersama grup populer lainnya, seperti BINI dari Filipina, 4EVE dari Thailand, dan DOLLA dari Malaysia. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa musik Asia Tenggara semakin mampu menyeberangi batas negara dan mendapatkan perhatian dari audiens global.
Di era digital saat ini, algoritma membuat anak muda di Jakarta bisa mengetahui lagu baru dari Seoul, Manila, Los Angeles, Bangkok, atau Tokyo hampir bersamaan dengan mereka yang tinggal di kota asal mereka. Di tengah dunia yang semakin seragam tersebut, sebuah identitas justru menjadi semakin berharga, dan di situlah No Na hadir. Empat perempuan dengan latar berbeda dipertemukan dalam proyek musik berorientasi internasional tanpa membawa identitas yang kosong, melainkan membawa identitas Indonesia. Nama No Na sendiri sangat menarik untuk dibaca karena berasal dari kata "nona", yang merupakan sapaan khas untuk perempuan muda dalam bahasa Indonesia.
No Na mengusung konsep Island Girl. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat relevan mengingat Indonesia adalah negeri kepulauan. Konsep Island Girl bukan hanya tentang pantai, matahari, laut, atau keindahan tropis semata, melainkan dapat dibaca sebagai identitas perempuan yang tumbuh di ruang yang beragam. Mereka adalah gambaran perempuan yang berasal dari pulau tetapi hidup dalam dunia tanpa batas, serta mengenal tradisi erat sembari tumbuh bersama internet. Mereka dapat mendengarkan musik Barat, K-pop, J-pop, dan musik Asia Tenggara, namun tetap membawa pengalaman keindonesiaan dalam diri mereka.
Salah satu hal paling menarik dari cara No Na diperkenalkan adalah bagaimana unsur budaya Indonesia ditempatkan dalam karya mereka. Gamelan, misalnya, tidak sekadar ditempelkan sebagai dekorasi visual atau audio. Dalam materi pengenalan mereka, bunyi tradisional Indonesia digunakan sebagai bagian integral dari perjalanan menuju musik modern. Secara simbolik, hal ini sangat kuat karena selama ini tradisi sering diposisikan berseberangan dengan modernitas. No Na mencoba membongkar batas tersebut dengan membuktikan bahwa gamelan bisa hidup di tengah musik pop. Gamelan muncul pada bagian awal teaser dan suaranya bertransformasi secara mulus menjadi musik modern. Sejumlah media di Indonesia yang meliput debut mereka juga menyoroti percampuran antara unsur budaya lokal dan produksi musik kontemporer ini, menempatkan gamelan bukan sebagai lawan dari musik modern, melainkan sebagai pintu masuk menuju karya yang kekinian.
Indonesia sebagai Soft Power
Sudah sejak lama, Korea Selatan dengan industri K-Pop-nya menjadi inspirasi bagi banyak negara di dunia dalam pengemasan budaya populer, terutama industri musik. Ada alasan kuat mengapa Korea Selatan begitu serius membangun industri budayanya. Selama bertahun-tahun, K-pop menunjukkan kepada dunia bahwa musik bisa menjadi instrumen kekuatan budaya (soft power). Korea Selatan tidak hanya mengekspor lagu, melainkan juga mengekspor gaya hidup, bahasa, makanan, fesyen, kosmetik, drama, hingga imajinasi tentang masyarakatnya. Mereka memahami bahwa sebuah negara tidak hanya dikenal karena kekuatan ekonomi dan militernya, tetapi juga dapat dikenal melalui musik, film, drama, dan cerita yang mereka kirimkan ke seluruh dunia.
Belajar dari sejarah Korea Selatan, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang luar biasa dengan kekayaan budaya, tradisi, serta bahasa. Namun, seluruh potensi tersebut tidak otomatis menjadi kekuatan budaya tanpa peran aktif industri kreatif. No Na memang bukan diplomat formal maupun pejabat negara, tetapi ketika mereka berdiri di atas panggung internasional sebagai perempuan Indonesia, mereka sedang melakukan diplomasi budaya. Mereka memperkenalkan wajah lain dari Indonesia: Indonesia yang muda, kreatif, modern, dan tidak takut berinteraksi dengan dunia.
Ada satu hal yang membuat perjalanan No Na semakin menarik: mereka adalah kelompok perempuan yang membawa identitas Indonesia melalui suara mereka sendiri. Selama bertahun-tahun, perempuan Indonesia sering kali hanya hadir dalam narasi budaya sebagai objek. Dalam konteks tersebut, Island Girl bukan hanya identitas geografis, melainkan menjadi pernyataan tentang agensi perempuan—bahwa perempuan dari negeri kepulauan bukan sekadar objek yang dilihat, melainkan subjek yang bebas berbicara.
Mungkin inilah pelajaran paling penting dari perjalanan No Na. Selama ini terdapat anggapan bahwa untuk menjadi global seseorang harus meninggalkan unsur lokal, seolah-olah demi diterima dunia seseorang harus terlebih dahulu menghapus ciri khas asalnya. Padahal, sejarah budaya justru menunjukkan hal sebaliknya: banyak karya besar lahir ketika dua dunia saling bertemu. Oleh karena itu, perjalanan No Na harus dipandang bukan hanya sebagai pencapaian industri musik semata, melainkan sebagai pijakan baru bagi diplomasi budaya Indonesia di tingkat dunia.




