JAKARTA, SISIPUBLIK.ID — Sejarah Indonesia tidak selalu ditulis melalui pidato, perang, pergantian kekuasaan atau keputusan politik. Ada bagian dari sejarah bangsa yang justru tumbuh melalui lagu, tarian, panggung pertunjukan dan cara sebuah generasi membayangkan identitasnya. Di wilayah itulah nama Guruh Soekarnoputra menjadi penting. Ayahnya bukan sekadar seorang presiden, melainkan tokoh yang ikut membentuk imajinasi bangsa tentang kemerdekaan, nasionalisme dan kebudayaan. Tetapi Guruh tidak memilih menjadi Soekarno kedua dan memilih seni. Dan justru melalui seni itulah ia seperti menemukan cara sendiri untuk berbicara tentang Indonesia. Tetapi membaca Guruh semata-mata sebagai anak Soekarno justru berisiko mengecilkan perjalanan sejarahnya. Sebab, setelah Indonesia merdeka, salah satu persoalan yang terus muncul bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan kemerdekaan, melainkan Indonesia macam apa yang hendak dibangun. Bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar? Bagaimana menerima pengaruh dunia luar tanpa sekadar menjadi peniru? Dan bagaimana membuat tradisi tetap hidup ketika zaman terus berubah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang, dalam bentuk yang berbeda, muncul dalam perjalanan kesenian Guruh.
Lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, sebagai putra bungsu Soekarno dan Fatmawati, Guruh tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya hampir mustahil dipisahkan dari sejarah Indonesia. Ia tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan politik sekaligus kebudayaan. Ayahnya, Soekarno, bukan hanya presiden pertama Republik Indonesia, tetapi juga tokoh yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari proyek pembentukan karakter bangsa. Sejak kecil Guruh telah mempelajari berbagai kesenian tradisional, termasuk tari Jawa, Sunda dan Bali. Ia juga bermain piano. Ketika remaja, ketertarikannya terhadap musik semakin berkembang dan pada 1965 ia membentuk kelompok musik The Beat-G. Lima tahun kemudian ia membentuk The Flower Poetman. Namun yang menarik adalah arah perjalanan Guruh yang secara sadar tidak memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan mencoba mempertemukan keduanya. Walaupun pernah mengenyam pendidikan di Universiteit van Amsterdam pada awal 1970-an, Guruh tetap berhubungan dengan kesenian Nusantara. Ia bergabung dengan kelompok gamelan Jawa dan Bali di Tropenmuseum Amsterdam dan bahkan mengajar gamelan Bali serta tari Bali.
Ketika berada di Eropa, ia tidak meninggalkan Indonesia untuk menjadi sepenuhnya Barat. Sebaliknya, perjumpaan dengan dunia luar justru memperkuat pencariannya terhadap apa yang dianggapnya sebagai Indonesia. Pada pertengahan 1970-an, eksperimen itu mencapai bentuk yang sangat penting. Guruh bekerja bersama kelompok musik Gipsy yang antara lain beranggotakan Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution dan Abadi Soesman. Hasilnya adalah Guruh Gipsy, karya yang mempertemukan musik rock dengan unsur gamelan Bali. Bagi sejarah musik Indonesia, eksperimen tersebut penting karena menunjukkan bahwa musik modern tidak harus berarti memutus hubungan dengan tradisi. Guruh tidak sekadar mengambil musik Barat kemudian menempelkan gamelan sebagai hiasan, melainkan mencoba menciptakan bahasa musik baru.
Dengan demikian, Guruh sebenarnya meneruskan perdebatan yang sudah berlangsung jauh sebelum dirinya lahir. Perdebatan antara mereka yang melihat modernitas Barat sebagai jalan kemajuan dan mereka yang mengingatkan pentingnya akar kebudayaan sendiri. Bedanya, Guruh tidak menyelesaikan perdebatan itu melalui tulisan atau manifesto, Ia menyelesaikannya melalui karya. Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika. Di sinilah gagasannya tentang kebudayaan berkembang menjadi gerakan seni pertunjukan yang lebih besar. Tari, musik, koreografi, busana, tata panggung dan unsur teatrikal dirangkai menjadi pertunjukan yang spektakuler. Beberapa orang yang kemudian dikenal di dunia seni dan hiburan Indonesia juga pernah berada dalam lingkungan Swara Maharddhika.
Pertunjukan seperti Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia dan Gilang Indonesia Gemilang memperlihatkan bagaimana Guruh menjadikan kebudayaan Nusantara sebagai materi pertunjukan modern. Karya lainnya seperti lagu yang menjadi bagian dari ingatan populer Indonesia seperti Melati Suci, Anak Jalanan, Kala Cinta Menggoda, Kala Surya Tenggelam, Lenggang Puspita, Zamrud Khatulistiwa dan Smaradhana menjadi bukti kehebatan Guruh di dunia seni. Selain itu, Guruh pun menggarap ilustrasi musik sejumlah film yang juga sangat membekas dalam ingatan publik Indonesia seperti Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati.
Di sinilah Guruh tampaknya memiliki keyakinan yang berbeda dari pandangan bahwa tradisi harus selalu tampil dalam bentuk lama, dan seni harus tetap bergerak. Tari daerah dapat masuk ke panggung modern. Gamelan dapat berdampingan dengan gitar listrik. Busana tradisional dapat menjadi bagian dari pertunjukan kontemporer. Pengamat musik Stanley Tulung melihat Guruh sebagai seniman dengan wilayah kerja yang luas. “Guruh adalah sosok yang komplet sebagai seniman,” kata Stanley yang menyebut Guruh sebagai musisi, penulis lagu, penari, koreografer dan aktor. Ia juga menilai Guruh sebagai budayawan. Kesaksian tersebut membantu menjelaskan mengapa Guruh sulit ditempatkan hanya dalam satu kategori. Ia bukan hanya pencipta lagu, tetapi juga membangun ekosistem kesenian. Di dalamnya ada musisi, penari, koreografer, penyanyi, penata panggung dan anak-anak muda yang mendapatkan ruang untuk belajar. Karena itu, pengaruh Guruh tidak selalu terlihat dalam daftar lagu yang diciptakannya. Berbeda dengan Stanley Tulung, Addie MS melihat Guruh: lebih dari sekadar musikalitas. Ketika menggarap album Chrisye pada 1984, Addie mendapat kesempatan mengaransemen karya Guruh, Sendiri.
Addie MS menyebut Guruh sebagai tokoh yang sejak awal kariernya menginspirasinya karena “semangat keindonesiaan”. Addie juga mengenang bagaimana Guruh sering berbicara tentang batik, adab dan etika Indonesia. Hal serupa dirasakan penyanyi dan seniman Memes yang masa remajanya pernah belajar berkesenian di lingkungan Guruh. Ia tidak hanya belajar menari, tetapi juga kebudayaan, organisasi, disiplin, tata rias dan berbagai unsur pertunjukan. Generasi muda yang masuk ke dalamnya tidak hanya diajari bagaimana tampil di atas panggung, tetapi juga bagaimana memahami tubuh, busana, musik, disiplin dan identitas budaya. Warisan seperti inilah yang sering tidak terlihat ketika sejarah seorang seniman hanya dihitung dari jumlah album atau lagu yang diciptakannya.
Sebagai anak Soekarno, dunia politik tentu bukan wilayah asing. Setelah membangun karier panjang di bidang seni, Guruh kemudian masuk ke parlemen dan menjadi anggota DPR melalui PDI dan kemudian PDI Perjuangan. Ia juga terlibat dalam isu pendidikan dan kebudayaan di parlemen. Tetapi politik tidak menghapus identitas senimannya, melainkan malah menambah pengalaman panjang di dunia kebudayaan menjadi salah satu modal yang dibawanya ke ruang politik. Dalam dirinya, seni dan politik bertemu pada satu gagasan yang sama: kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan bangsa. Walaupun lahir dari keluarga politik paling terkenal dalam sejarah Indonesia modern, ia tumbuh dalam rumah yang sarat gagasan tentang nasionalisme.
Jika Soekarno banyak berbicara tentang Indonesia melalui politik, pidato dan gagasan kebangsaan. Tapi Guruh berbicara melalui musik, tari dan panggung. Di tangan Guruh, nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk pidato. Kadang ia hadir dalam bunyi gamelan yang bertemu gitar listrik. Guruh meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, pada usia 73 tahun. Putra bungsu Soekarno dan Fatmawati itu meninggalkan jejak yang sulit dipisahkan dari perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia sejak dekade 1960-an. Sejarah mungkin akan terus memperdebatkan tempat Guruh dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Namun, satu hal sulit disangkal: ia membuat Indonesia tidak hanya dibicarakan, tetapi juga didengar, dilihat dan dirasakan melalui seni.***




