Sisi Persona

Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Dalam historiografi Indonesia, Suhud Sastro Kusumo sering kali hanya disebut secara singkat sebagai "pendamping Latief Hendraningrat". Akibatnya, riwayat hidup dan kiprahnya di luar peristiwa Proklamasi kurang mendapat perhatian.

23 Juli 2026•5 Kali Dilihat
Oleh: EL
Suhud Suhud S. Kusumo

Kredit: Foto:Istimewa

Seri Mereka yang Terlupakan Sejarah

Jakarta. Sisipublik.id - Dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, nama Suhud Sastro Kusumo sering disebut berdampingan dengan Latief Hendraningrat sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Berbeda dengan Latief yang merupakan seorang perwira PETA, Suhud adalah seorang pemuda biasa yang pada saat-saat genting tersebut tampil membantu proses pengibaran bendera Merah Putih. Perannya mungkin tampak sederhana, tetapi tanpa bantuannya, prosesi pengibaran bendera pada pagi bersejarah itu tidak akan berlangsung sebagaimana yang dikenang hingga hari ini.


Latar Belakang Sebagai Pemuda Perjuangan

Informasi mengenai kehidupan awal Suhud Sastro Kusumo memang tidak sebanyak tokoh-tokoh utama Proklamasi. Berbagai sumber sejarah mencatat bahwa ia lahir di Jakarta sekitar tahun 1920, namun data mengenai tanggal lahir, pendidikan, dan kehidupan keluarganya masih sangat terbatas. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa banyak pelaku lapangan dalam sejarah kemerdekaan belum terdokumentasi secara lengkap. Pada masa pendudukan Jepang, Suhud dikenal sebagai pemuda yang aktif membantu berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan. Ia juga memiliki hubungan baik dengan para anggota PETA dan kelompok pemuda yang mengawal jalannya proklamasi. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, situasi Jakarta dipenuhi ketidakpastian. Para pemuda bergerak cepat mengawal proses menuju Proklamasi. Suhud termasuk di antara mereka yang siap membantu setiap kebutuhan teknis demi kelancaran acara yang akan dilaksanakan di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Tidak ada latihan resmi maupun protokol kenegaraan. Semua persiapan dilakukan secara sederhana, dengan semangat gotong royong dan kesadaran bahwa Indonesia sedang memasuki babak baru sejarahnya.


Perannya dalam Pengibaran

Pagi hari 17 Agustus 1945, setelah Soekarno selesai membacakan teks Proklamasi, tibalah saat pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati. Semula, Latief Hendraningrat meminta bantuan seorang pemuda yang berada di lokasi untuk mendampinginya. Pemuda itu adalah Suhud Sastro Kusumo. Bersama-sama mereka membawa bendera menuju tiang bambu yang telah dipersiapkan. Dalam prosesi tersebut, Latief Hendraningrat bertugas mengikat dan menaikkan bendera, sedangkan Suhud membantu memegang, membentangkan, dan memastikan kain Merah Putih tidak menyentuh tanah selama proses pengibaran. Ketika bendera perlahan naik ke puncak tiang, para hadirin secara spontan menyanyikan lagu "Indonesia Raya" tanpa iringan musik. Walaupun hanya berlangsung beberapa menit, prosesi itu menjadi salah satu momen paling sakral dalam sejarah Indonesia.


Pengabdian Pascakemerdekaan

Setelah Proklamasi, Suhud tetap mengabdikan diri kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. Namun, berbeda dengan beberapa tokoh Proklamasi lainnya, ia tidak banyak tampil dalam dunia politik maupun pemerintahan. Sebagian besar hidupnya dijalani sebagai warga negara yang terus mendukung pembangunan bangsa. Namanya lebih dikenal melalui perannya pada 17 Agustus 1945 dibandingkan jabatan-jabatan publik yang pernah diembannya. Dalam berbagai peringatan Hari Kemerdekaan, nama Suhud Sastro Kusumo selalu disebut bersama Latief Hendraningrat sebagai pengibar pertama Sang Saka Merah Putih. Meskipun tidak memperoleh sorotan sebesar tokoh-tokoh utama Proklamasi, kontribusinya tetap diakui sebagai bagian penting dari rangkaian peristiwa lahirnya Republik Indonesia.

Dalam perspektif sejarah sosial, peran Suhud memiliki makna yang besar. Ia mewakili ribuan pemuda Indonesia yang bekerja di balik layar dan tidak selalu memperoleh tempat dalam narasi sejarah resmi. Kehadirannya pada pagi 17 Agustus 1945 menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan para pemimpin besar, tetapi juga lahir dari partisipasi masyarakat biasa yang bersedia mengambil tanggung jawab pada saat-saat paling menentukan. Suhud Sastro Kusumo layak dikenang sebagai salah satu putra bangsa yang turut mengabadikan detik-detik kelahiran Republik Indonesia. Dengan mendampingi pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya, ia telah menjadi bagian dari simbol kedaulatan yang hingga kini terus dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Artikel Terkait

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Obituari Guruh Soekarno putra, Membunyikan Sejarah Lewat Musik

Ada anak presiden yang memilih hidup di bawah bayang-bayang nama ayahnya. Ada pula yang mencoba membangun ruangnya sendiri. Guruh Soekarnoputra berada di antara keduanya.

29 Sep 2026
Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Kebijakan Bobby Nasution yang Curi Perhatian Warganet: Dari Digitalisasi E-Parking hingga Bendungan Lau Simeme

Ada beberapa kebijakan Muhammad Bobby Afif Nasution, sejak menjabat Wali Kota Medan hingga sekarang menjadi Gubernur Sumatera Utara, yang mendapat atensi dari warganet di berbagai platform media sosial. Kebijakan yang mendapat apresiasi publik antara lain: digitalisasi sistem E-Parking non-tunai, akselerasi proyek Bendungan Lau Simeme, serta penjaminan layanan kesehatan gratis melalui program UHC Prioritas. Kita berharap, kombinasi formulasi kebijakan berbasis data, transparansi, serta pola komunikasi digital yang responsif, program kerja Pemprov Sumut memberikan dampak langsung bagi bagi masyarakat.

21 Sep 2026
Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Belajar Integritas dari Jenderal Hoegeng yang Masih Relate dengan Anak Muda

Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah ikon integritas Polri yang melegenda karena keberaniannya menolak suap dan menghapus hak istimewa ( privilege ) dalam penegakan hukum. Di tengah badai korupsi 2026 yang menjerat Jampidsus Febri Adriansyah dan belasan kepala daerah, kisah mantan Kapolri (1968-1971) ini kembali viral sebagai standar moral bagi generasi muda. Kejujuran , penolakan suap , dan pemutusan konflik kepentingan adalah warisan utama beliau.

15 Sep 2026
Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Lebih dari Sekadar Nama Jalan: Meneladani Izaak Huru Doko, Pahlawan Dari NTT yang Berani Menolak Jabatan Demi Pendidikan

Perjalanan hidup dan perjuangan Izaak Huru Doko, pahlawan nasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meletakkan fondasi pendidikan di tanah Timor. Setelah menempuh pendidikan guru di Jawa, ia memilih kembali ke NTT untuk mengajar, menanamkan jiwa nasionalisme, serta memelopori pendirian pelbagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Di tengah maraknya perburuan kekuasaan, Izaak Huru Doko memberikan teladan integritas dengan berani menolak tawaran posisi politik strategis seperti anggota Konstituante hingga calon gubernur pertama NTT, demi memprioritaskan pengabdian dan pembangunan dunia pendidikan.

10 Sep 2026