Kategori

Sisi Persona

Kumpulan artikel, opini, dan analisis mendalam seputar topik Sisi Persona.

22 Postingan
Yuma Soerianto: Ketika Anak-Anak Tidak Hanya Menjadi Pengguna Teknologi

Yuma Soerianto: Ketika Anak-Anak Tidak Hanya Menjadi Pengguna Teknologi

Usia enam tahun, sudah belajar coding dari internet dan membuatnya berdiri di panggung Apple yang diperkenalkan Tim Cook. Rasa ingin tahu membuatnya tumbuh menjadi perjalanan panjang menuju panggung teknologi global

Oleh: MG18 Agu
Djiauw Kie Siong: Rumah dan Matanya Jadi Saksi Kemerdekaan Indonesia

Djiauw Kie Siong: Rumah dan Matanya Jadi Saksi Kemerdekaan Indonesia

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi Setiap Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945. Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, Fatmawati, Sukarni, hingga para pemuda Menteng 31 kembali disebut sebagai tokoh sentral yang mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Namun, sejarah sering kali hanya memberi panggung kepada segelintir nama, sementara ribuan orang lain yang turut mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa, perlahan tenggelam dalam ingatan kolektif bangsa. Padahal, kemerdekaan tidak lahir hanya dari hasil perundingan para elite atau keberanian membacakan teks proklamasi. Kemerdekaan adalah akumulasi perjuangan panjang yang melibatkan rakyat biasa dari berbagai pelosok Nusantara. Mereka adalah petani yang menyuplai makanan bagi pejuang, perempuan yang menjadi kurir rahasia, santri yang mempertahankan pesantren dari serangan penjajah, nelayan yang menyelundupkan logistik, hingga para guru yang diam-diam menanamkan semangat nasionalisme kepada murid-muridnya. Dalam catatan sejarah, banyak di antara mereka tidak pernah menerima penghargaan negara. Nama mereka tidak diabadikan menjadi jalan raya, gedung pemerintah, atau buku pelajaran sekolah. Bahkan, sebagian besar keturunannya mungkin tidak pernah mengetahui bahwa orang tua atau kakek-nenek mereka pernah menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan republik. Fenomena ini menunjukkan bahwa sejarah sering ditulis dari sudut pandang para tokoh besar. Akibatnya, kontribusi masyarakat akar rumput menjadi kabur. Padahal, tanpa dukungan mereka, perjuangan politik yang dilakukan para pemimpin nasional akan kehilangan fondasi sosialnya. Sebuah revolusi tidak mungkin bertahan jika rakyat tidak ikut menghidupinya.Peran mereka jarang muncul dalam narasi utama sejarah, padahal keberhasilan revolusi juga ditopang oleh keberanian mereka. Banyak yang gugur tanpa pernah tercatat sebagai pahlawan nasional. Sejarah lokal memang menyimpan kisah mereka, tetapi gaungnya belum mampu menembus narasi sejarah nasional yang lebih populer. Sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menghadirkan keadilan bagi mereka yang telah memberi kontribusi besar namun tidak pernah mendapatkan pengakuan. Dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sisipublik.id menyajikan tulisan tentang sosok-sosok yang sangat berperan dalam terwujudnya momen proklamasi namun tak banyak disorot cerita sejarah. Salah satunya adalah Djiauw Kie Siong sang pemilik rumah yang digunakan untuk menyusun naskah teks proklamasi. Sisipublik.id berharap ini menjadi kesempatan untuk memperluas cara pandang terhadap sejarah Indonesia. Bahwa republik ini dibangun bukan hanya oleh segelintir tokoh yang fotonya terpajang di dinding sekolah, melainkan oleh jutaan rakyat biasa yang memilih berjuang meski tahu nama mereka mungkin tak akan pernah dikenang. Sosok Djiauw Kie Siong memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya melibatkan tokoh-tokoh pribumi, tetapi juga mendapat dukungan dari sebagian warga keturunan Tionghoa yang memilih berpihak kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Oleh: Leqom12 Agu
Mama Aleta Baun dan Kemerdekaan yang Mengakar di Bumi Mollo

Mama Aleta Baun dan Kemerdekaan yang Mengakar di Bumi Mollo

Artikel ini mengulas perjuangan Mama Aleta Baun dari Pegunungan Mollo, NTT, dalam merebut kembali kedaulatan lingkungan dari ancaman tambang marmer. Melalui tenun budaya dan keteguhan perempuan Mollo, ia membuktikan bahwa kemerdekaan sejati adalah merawat "Ibu Bumi" demi keberlangsungan generasi bangsa.

Oleh: MG11 Agu
Mayor Miyoshi Angkatan Laut Jepang Jadi Saksi Lahirnya  Proklamasi

Mayor Miyoshi Angkatan Laut Jepang Jadi Saksi Lahirnya Proklamasi

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi Setiap Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945. Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, Fatmawati, Sukarni, hingga para pemuda Menteng 31 kembali disebut sebagai tokoh sentral yang mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Namun, sejarah sering kali hanya memberi panggung kepada segelintir nama, sementara ribuan orang lain yang turut mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa, perlahan tenggelam dalam ingatan kolektif bangsa. Padahal, kemerdekaan tidak lahir hanya dari hasil perundingan para elite atau keberanian membacakan teks proklamasi. Kemerdekaan adalah akumulasi perjuangan panjang yang melibatkan rakyat biasa dari berbagai pelosok Nusantara. Mereka adalah petani yang menyuplai makanan bagi pejuang, perempuan yang menjadi kurir rahasia, santri yang mempertahankan pesantren dari serangan penjajah, nelayan yang menyelundupkan logistik, hingga para guru yang diam-diam menanamkan semangat nasionalisme kepada murid-muridnya. Dalam catatan sejarah, banyak di antara mereka tidak pernah menerima penghargaan negara. Nama mereka tidak diabadikan menjadi nama jalan raya, gedung pemerintah, atau ditulis dalam buku pelajaran sekolah. Bahkan, sebagian besar keturunannya mungkin tidak pernah mengetahui bahwa orang tua atau kakek-nenek mereka pernah menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan republik. Fenomena ini menunjukkan bahwa sejarah sering ditulis dari sudut pandang para tokoh besar. Akibatnya, kontribusi masyarakat akar rumput menjadi kabur. Padahal, tanpa dukungan mereka, perjuangan politik yang dilakukan para pemimpin nasional akan kehilangan fondasi sosialnya. Sebuah revolusi tidak mungkin bertahan jika rakyat tidak ikut menghidupinya. Peran mereka jarang muncul dalam narasi utama sejarah, padahal keberhasilan revolusi juga ditopang oleh keberanian mereka. Banyak yang gugur tanpa pernah tercatat sebagai pahlawan nasional. Sejarah lokal memang menyimpan kisah mereka, tetapi gaungnya belum mampu menembus narasi sejarah nasional yang lebih populer. Sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menghadirkan keadilan bagi mereka yang telah memberi kontribusi besar namun tidak pernah mendapatkan pengakuan. Dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Sisipublik.id menyajikan tulisan tentang sosok-sosok yang sangat berperan dalam terwujudnya momen proklamasi, namun tak banyak disorot dalam cerita sejarah. Salah satunya adalah Mayor Miyoshi. Sisipublik.id berharap ini menjadi kesempatan untuk memperluas cara pandang terhadap sejarah Indonesia. Bahwa republik ini dibangun bukan hanya oleh segelintir tokoh yang fotonya terpajang di dinding sekolah, melainkan oleh jutaan rakyat biasa yang memilih berjuang meski tahu nama mereka mungkin tak akan pernah dikenang.

Oleh: Leqom10 Agu
Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Artikel ini mengulas tentang pentingnya mengakui peran masyarakat akar rumput dan tokoh-tokoh daerah yang sering terlupakan dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Secara khusus, tulisan ini menyoroti sosok Shodanco Singgih, seorang komandan peleton PETA di Rengasdengklok. Dalam Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, Singgih bertanggung jawab menjaga keamanan Soekarno dan Mohammad Hatta dari potensi bentrokan atau campur tangan tentara Jepang. Keberhasilannya menciptakan kondisi yang aman di Rengasdengklok memungkinkan terciptanya kesepakatan antara golongan muda dan golongan tua untuk melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kisah Shodanco Singgih menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kolaborasi dan pengorbanan banyak pihak yang bekerja di balik layar, bukan hanya para tokoh besar nasional.

Oleh: lis6 Agu
Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito, akademisi Katolik-Amerika yang mendedikasikan hidupnya sebagai jembatan pemikiran antara dunia Islam dan Barat. Lewat karya dan dialog antariman, ia mematahkan stigma negatif serta menyuguhkan wajah Islam yang ramah, moderat, dan inklusif.

Oleh: EL24 Jul
Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Dalam historiografi Indonesia, Suhud Sastro Kusumo sering kali hanya disebut secara singkat sebagai "pendamping Latief Hendraningrat". Akibatnya, riwayat hidup dan kiprahnya di luar peristiwa Proklamasi kurang mendapat perhatian.

Oleh: EL23 Jul
Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Berbekal keteguhan dalam memegang komitmen, ditambah kepandaiannya dalam berkomunikasi merubah takdir hidup seorang Basrizal Koto. Semula, lahir dari keluarga dengan banyak keterbatasan membuatnya menjadi sosok inspiratif untuk komunitasnya.

Oleh: EL21 Jul
Sebelumnya
Halaman 2 dari 3
Selanjutnya