JAKARTA. sisipublik.id – Pria berusia 40 tahun asal Dusun Krajan, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini sukses menyulap limbah domestik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Sehari-hari, pria yang akrab disapa Antok ini mengemban amanah sebagai kepala dusun setempat. Di sela-sela kesibukannya melayani warga, ia menggerakkan sebuah bank sampah yang menampung setoran plastik bekas dari masyarakat. Lewat sentuhan teknologi pirolisis, plastik-plastik tersebut disuling menjadi solar alternatif.
Inovasi Antok tidak berhenti pada urusan teknis mengubah limbah menjadi bahan bakar semata. Ia melangkah lebih jauh dengan merajut gagasan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan ekonomi warganya. Nilai ekonomi dari setiap gram sampah yang disetorkan warga tidak dicairkan begitu saja dalam bentuk uang tunai. Antok mengumpulkannya dalam bentuk tabungan khusus yang disiapkan untuk membantu warga membayar tagihan listrik, sembako, hingga pajak kendaraan bermotor.
Ide kreatif ini lahir dari keresahan personal Antok yang gerah melihat persoalan sampah plastik di lingkungannya. Alih-alih sekadar mengeluh, ia memilih mendirikan bank sampah dengan konsep baru yang mengedukasi masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya mendidik warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan insentif ekonomi yang berdampak nyata. “Produksi dulu mulai pertengahan 2025, cuma kita coba-coba dulu. Setelah itu, tahun 2026 ini kita mulai mengolah secara rutin,” kata Antok saat ditemui wartawan di rumahnya.
Antok berkisah bahwa pada tahap awal pengolahan sampah plastik masih dilakukan dalam skala kecil melalui percobaan sederhana. Seiring bertambahnya pengalaman dan dukungan dari berbagai pihak, kapasitas pengolahannya kemudian mulai ditingkatkan secara bertahap. Bahan baku yang digunakan sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar yang menyetorkan sampah rumah tangga maupun hasil tangkapan dari pasar. Sebelum dimasukkan ke mesin pengolahan, sampah-sampah tersebut harus melewati tahapan pemilahan, pencacahan, pembersihan, dan pengeringan manual secara terukur. “Bahan datang, kita pilah. Terus kita cacah, kita bersihkan, kemudian kita keringkan secara manual sebentar, setelah itu baru kita olah,” jelasnya.
Sumber Solar dari Sampah
Tumpukan sampah plastik yang biasanya berakhir menggunung di tempat pembuangan kini menemukan takdir baru di Desa Kencong. Saat ini Antok masih memfokuskan pengolahan sampah plastik untuk memproduksi bahan bakar jenis solar. Padahal, menurut dia, teknologi pirolisis yang digunakan sebenarnya juga berpotensi menghasilkan jenis BBM lain seperti bensin dan minyak tanah. “Sementara kita fokus ke solar dulu. Sebenarnya dari plastik bisa menghasilkan bensin dan minyak tanah, tapi kita coba fokus solar,” ujarnya menambahkan.
Dalam satu kali proses produksi, bank sampah tersebut mengolah sekitar 4 hingga 5 kuintal sampah plastik secara berkelanjutan. Hasil produksi tersebut sangat bergantung pada jenis plastik serta kandungan air yang masih tersisa di dalam bahan baku. Antok menjelaskan bahwa dari setiap 100 kilogram sampah plastik yang diolah, rata-rata dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 70 liter solar alternatif. Oleh karena itu, proses pemilahan hingga pengeringan menjadi tahap yang sangat krusial karena sisa air dapat memengaruhi kualitas BBM yang dihasilkan.
Menjalin Relasi Kerja Sama
Inovasi pengolahan sampah plastik di Dusun Krajan ini telah mendapat apresiasi serta dukungan penuh dari Pemerintah Desa Kencong, Pemerintah Kecamatan Kencong, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember, hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Terkait penanganan dan pemanfaatan sampah plastik tersebut, pihak pemerintah kecamatan bahkan berencana mendorong pembentukan bank sampah serupa di setiap desa. Dari sampah plastik yang sebelumnya tidak bernilai, Antok kini berhasil membangun sebuah siklus ekonomi sirkular baru bagi desanya. Warga mengumpulkan sampah, bank sampah mengolahnya menjadi BBM, sementara nilai ekonominya dikembalikan lagi untuk membantu kesejahteraan masyarakat.
“Ya, mudah-mudahan ini berhasil dan semakin besar. Sedikit demi sedikit kita mengubah SDM masyarakat agar lebih sadar lingkungan,” pungkas Antok. Saat ini, Antok sedang menyiapkan skema kerja sama formal dengan Pemerintah Desa Kencong dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui kerja sama ini, setiap setoran sampah warga akan dihitung dan dicatat secara transparan sebagai nilai tabungan ekonomi. Saldo tersebut nantinya dapat dialihkan untuk membantu pembiayaan kebutuhan tahunan seperti pajak kendaraan bermotor warga. “Kita sedang menyiapkan kerja sama dengan desa dan BUMDes. Jadi masyarakat yang setor sampah, nominalnya kita kumpulkan dan nanti bisa dialihkan untuk pembayaran pajak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa warga yang rutin menyetorkan sampah dapat mengumpulkan saldo selama beberapa bulan hingga nominalnya mencukupi. Ketika waktu pembayaran pajak tahunan tiba, saldo tabungan sampah tersebut langsung dialokasikan untuk membayar pajak kendaraan tanpa membebani dompet warga. Bagi Antok, skema ini diharapkan mampu mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga secara mendasar. “Pajak kan satu tahun sekali. Jadi kalau beberapa bulan sudah dapat nominal yang sesuai, itu bisa dialihkan. Pajak tidak lagi dibebankan dari pengeluaran pribadi, melainkan dari sampah yang kita kelola bersama,” tegasnya.
Tak berhenti pada sektor pajak kendaraan, Antok juga merencanakan ekspansi kerja sama dengan pihak PLN. Ia menginginkan saldo hasil setoran sampah warga nantinya dapat dimanfaatkan langsung untuk membayar tagihan listrik bulanan maupun pembelian token listrik. Selain itu, ia juga menyiapkan mekanisme penukaran saldo tabungan sampah dengan paket bahan kebutuhan pokok (sembako) bagi warga yang membutuhkan. “Kalau sudah berjalan, kita ingin kerja sama dengan PLN. Jika nominalnya mencapai Rp100 ribu, warga juga bisa menukarnya dengan sembako seperti beras, gula, atau minyak goreng sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.
Konsep terpadu ini membuat bank sampah yang dikelola Antok tidak lagi sekadar tempat penampungan limbah, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi warga. Ia ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa sampah plastik yang selama ini menjadi sumber masalah justru menyimpan potensi keuntungan jika dikelola secara tepat. Melalui edukasi yang konsisten, Antok berharap masyarakat mulai terbiasa memilah sampah sejak dari dapur rumah tangga masing-masing. “Selama ini sampah plastik menjadi masalah. Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuangnya begitu saja, karena jika dikumpulkan dan dikelola, sampah plastik bisa menjadi sumber keuntungan,” ucapnya menutup pembicaraan.***




