Sisi Persona

Dari Pidato Kenegaraan hingga Algoritma Media Sosial

Bagian 2 dari 16 tulisan Komunikasi era Soekarno

11 Juli 202611 Kali Dilihat
Oleh: MG
Gaya berpidato Presiden Indonesia

Kredit: ilustrated by AI

Komunikasi A la Retorika Revolusioner


Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa komunikasi politik tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu mengikuti tantangan zamannya. Pada era Soekarno, ketika revolusi menjadi napas kehidupan berbangsa, komunikasi politik tampil dalam bentuk retorika yang penuh semangat, simbolisme, dan ajakan kolektif. Kata-kata bukan sekadar penyampai pesan, melainkan instrumen untuk membangun bangsa dan mengonsolidasikan kekuatan politik.


JAKARTA. sisipublik.id - Sejarah politik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah komunikasi politiknya. Setiap rezim memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan antara negara dan rakyat.  Namun, tidak ada periode yang memperlihatkan dominasi komunikasi politik sekuat era Presiden Soekarno. Pada masa inilah komunikasi menjadi instrumen utama dalam membangun negara, mengonsolidasikan identitas nasional, serta memperoleh legitimasi politik di tengah dinamika revolusi dan perubahan geopolitik dunia. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin setelahnya yang memanfaatkan televisi, internet, atau media sosial, Soekarno hidup pada masa ketika pidato, radio, surat kabar, dan pertemuan akbar menjadi medium utama komunikasi publik.

Keterbatasan teknologi justru melahirkan bentuk komunikasi yang sangat personal, emosional, dan ideologis. Soekarno menjadikan dirinya bukan sekadar kepala negara, melainkan narator utama perjalanan bangsa Indonesia. Dalam perspektif ilmu komunikasi, Soekarno dapat dipahami sebagai komunikator politik yang memiliki ethos (kredibilitas), pathos (kemampuan membangkitkan emosi), dan logos (argumentasi) secara bersamaan. Konsep retorika klasik yang diperkenalkan Aristoteles tampak jelas dalam hampir seluruh pidato politiknya. Ia bukan hanya menyampaikan kebijakan, melainkan membangun makna, simbol, dan harapan kolektif

Semangat Membangun  Nation Building

Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak otomatis melahirkan bangsa yang utuh. Indonesia masih terdiri atas masyarakat dengan latar belakang etnis, bahasa, agama, dan tingkat pendidikan yang sangat beragam. Dalam kondisi demikian, komunikasi politik menjadi instrumen utama untuk membentuk kesadaran nasional.

Harold D. Lasswell merumuskan komunikasi melalui pertanyaan: Who says what, in which channel, to whom, and with what effect? Dalam konteks Indonesia awal kemerdekaan, jawaban atas pertanyaan tersebut hampir selalu mengarah pada figur Soekarno. 

Soekarno adalah komunikator utama negara, menyampaikan pesan tentang nasionalisme dan revolusi melalui radio, mimbar politik, serta surat kabar kepada rakyat Indonesia dengan tujuan membangun loyalitas terhadap negara yang baru berdiri. Komunikasi politik Soekarno bukan sekadar menyampaikan informasi pemerintahan. Ia menciptakan narasi besar (grand narrative) bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki misi sejarah untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan membangun masyarakat yang berdaulat. Dengan demikian, komunikasi menjadi bagian dari proses nation building.***

Artikel Terkait

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Artikel ini mengulas tentang pentingnya mengakui peran masyarakat akar rumput dan tokoh-tokoh daerah yang sering terlupakan dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Secara khusus, tulisan ini menyoroti sosok Shodanco Singgih, seorang komandan peleton PETA di Rengasdengklok. Dalam Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, Singgih bertanggung jawab menjaga keamanan Soekarno dan Mohammad Hatta dari potensi bentrokan atau campur tangan tentara Jepang. Keberhasilannya menciptakan kondisi yang aman di Rengasdengklok memungkinkan terciptanya kesepakatan antara golongan muda dan golongan tua untuk melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kisah Shodanco Singgih menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kolaborasi dan pengorbanan banyak pihak yang bekerja di balik layar, bukan hanya para tokoh besar nasional.

6 Agu 2026
Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito, akademisi Katolik-Amerika yang mendedikasikan hidupnya sebagai jembatan pemikiran antara dunia Islam dan Barat. Lewat karya dan dialog antariman, ia mematahkan stigma negatif serta menyuguhkan wajah Islam yang ramah, moderat, dan inklusif.

24 Jul 2026
Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Dalam historiografi Indonesia, Suhud Sastro Kusumo sering kali hanya disebut secara singkat sebagai "pendamping Latief Hendraningrat". Akibatnya, riwayat hidup dan kiprahnya di luar peristiwa Proklamasi kurang mendapat perhatian.

23 Jul 2026
Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Berbekal keteguhan dalam memegang komitmen, ditambah kepandaiannya dalam berkomunikasi merubah takdir hidup seorang Basrizal Koto. Semula, lahir dari keluarga dengan banyak keterbatasan membuatnya menjadi sosok inspiratif untuk komunitasnya.

21 Jul 2026