JAKARTA. Sisipublik.id-- Di media sosial, hampir segala sesuatu tampak harus memiliki dua sisi. Benar atau salah, pro atau kontra, peduli atau tidak peduli, nasionalis atau tidak nasionalis. Termasuk dalam kasus kontroversi yang sedang viral menyangkut unggahan seorang tokoh publik Marissa Anita. Kasus bermula dari unggahan seorang Marissa Anita yang sedang mengikuti upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke 81 di istana negara pada tanggal 18 Agustus 2026. Ketika acara perayaan berlangsung, segera Marissa pun membuat ciutan di media sosialnya. Dalam pesannya, Marissa berucap tentang ketangguhan dan persatuan untuk menggambarkan perayaan hari ulang tahun di istana negara. Padahal pada saat bersamaan, warga negara Indonesia di Flores sedang berjibaku dengan genmpa berkekuatan 7,7 SR yang menewaskan puluhan korban dan kerusakan bangunan serius. Cuitan Marissa pun ramai ditanggapi netizen. Mereka memandang ciutan Marissa tidak peka dengan kondisi Flores. Bahkan netizen mempertanyakan di tengah suasana duka akibat gempa Flores, masih pantaskah merayakan kemerdekaan ketika di tempat lain masyarakat sedang berduka? Pertanyaan semacam itu memang sah diajukan. Sensitivitas sosial seorang figur publik juga layak diperbincangkan. Namun persoalannya menjadi problematis ketika kita langsung menempatkan realitas dalam dua kotak yang saling meniadakan.
Seolah-olah merayakan kemerdekaan berarti tidak berempati kepada korban bencana. Dan sebaliknya, menunjukkan solidaritas kepada korban bencana berarti tidak boleh merayakan kemerdekaan. Padahal kehidupan tidak sesederhana itu, duka dan perayaan bisa hadir bersamaan. Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana. Gempa, tsunami, banjir, longsor dan berbagai tragedi kemanusiaan tidak pernah benar-benar menunggu kalender nasional. Kemerdekaan tetap datang pada 17 Agustus, bahkan ketika sebagian masyarakat sedang kehilangan rumah, anggota keluarga, atau rasa aman. Di sinilah kita perlu membedakan antara perayaan negara dan pengalaman manusia. Negara boleh merayakan kemerdekaan. Masyarakat boleh memasang bendera. Anak-anak boleh mengikuti perlombaan. Seniman boleh tampil. Upacara boleh berlangsung. Namun pada saat yang sama, negara dan masyarakat juga wajib memberikan perhatian kepada mereka yang sedang mengalami bencana, dan keduanya tidak harus saling menghapus. Seseorang dapat merasa bangga sebagai warga negara sekaligus bersedih melihat korban gempa. Seseorang dapat menghadiri acara kenegaraan sekaligus memberikan dukungan kepada korban bencana. Bahkan seseorang dapat menikmati perayaan kemerdekaan sambil menyisihkan perhatian dan sumber dayanya untuk membantu mereka yang sedang tertimpa musibah.
Manusia memiliki kapasitas untuk merasakan lebih dari satu emosi dalam waktu yang sama, dan persoalan muncul ketika media sosial memaksa semuanya masuk ke dalam dua pilihan, ketika algoritma menyukai pertentangan. Di tengah suasana duka akibat gempa Flores menjadi salah satu contoh bagaimana logika biner bekerja dalam ruang publik digital. Sebuah persoalan yang sesungguhnya memiliki banyak lapisan dengan cepat dipadatkan menjadi pertanyaan sederhana: apakah seseorang pantas merayakan kemerdekaan ketika di tempat lain masyarakat sedang berduka? Menurut pegiat media sosial Henri Tajfel apa yang terjadi dengan Marissa Anita dan tanggapan netizen menggambarkan adanya jebakan logika biner: “Naluri lama manusia membelah "kita" dan "mereka" yang, kata , muncul otomatis bahkan tanpa alasan kuat. Media sosial hanya mempercepatnya,” ujar Henri Tajfel dalam cuitan di akun media sosialnya. Menurutnya, fenomena yang sama pernah menimpa peserta video Imagine Gal Gadot di AS, dilebur jadi satu label tanpa melihat siapa mereka sebenarnya. Logika biner sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam ilmu komputer, sistem biner bekerja dengan dua keadaan: 0 dan 1. Namun dalam ruang digital, cara berpikir biner justru semakin dominan. Sebuah unggahan harus segera dikategorikan. Seseorang harus segera diposisikan. Narasi harus segera ditentukan: siapa yang salah dan siapa yang benar. Konten yang mengandung konflik lebih mudah mendapatkan perhatian. Pernyataan yang bernuansa sering kalah cepat dibandingkan tuduhan yang tegas. Kalimat "ada yang perlu dikritisi" kalah menarik dibandingkan "ini tidak punya empati". Akibatnya, ruang publik digital sering tidak memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengatakan: "Persoalannya tidak sesederhana itu." Padahal justru kalimat itulah yang sering paling dibutuhkan.
Kontroversi Marissa Anita tetap memiliki aspek yang layak dikritisi. Sebagai figur publik memiliki posisi yang berbeda dengan warga biasa. Apa yang mereka tampilkan di ruang publik dapat ditafsirkan dan ditiru oleh masyarakat luas. Karena itu, semakin besar visibilitas seseorang, semakin besar pula tuntutan publik terhadap sensitivitas sosialnya. Dalam konteks bencana, persoalan waktu, tempat, simbol, dan cara berkomunikasi memang penting. Sebuah unggahan yang bagi seseorang dianggap biasa saja bisa dipersepsikan berbeda oleh masyarakat yang sedang berduka. Kritik terhadap Marissa tidak otomatis berarti kebencian. Kritik dapat menjadi bagian dari mekanisme publik untuk mengingatkan bahwa komunikasi figur publik memiliki konsekuensi sosial. Tetapi kritik juga seharusnya tidak otomatis berubah menjadi vonis moral, satu unggahan tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh karakter seseorang. Di sinilah logika biner kembali menjadi masalah. Dari satu tindakan, seseorang langsung ditempatkan dalam kategori "tidak peduli", dari satu kesalahan komunikasi, seluruh reputasi seseorang dipertaruhkan. Dari sebuah kontroversi, publik merasa berhak menentukan siapa yang baik dan siapa yang buruk, padahal manusia lebih kompleks daripada unggahannya. Apakah seseorang harus menunjukkan kesedihannya di media sosial agar dianggap memiliki empati? Pertanyaan ini semakin penting di era ketika kehidupan personal bercampur dengan ruang publik.
Empati kemudian berisiko berubah menjadi sesuatu yang harus dipertontonkan, mengunggah foto korban dianggap peduli. Mengunggah ucapan duka dianggap peduli. Menggalang donasi dianggap peduli. Sebaliknya, tidak mengunggah apa pun dapat ditafsirkan sebagai ketidakpedulian. Padahal empati tidak selalu berbentuk unggahan. Seseorang mungkin membantu secara diam-diam. Seseorang mungkin menghubungi keluarga korban secara pribadi. Seseorang mungkin menyumbang tanpa membuat konten. Bahkan seseorang mungkin tidak tahu harus mengatakan apa ketika sebuah tragedi terjadi. Kita perlu berhati-hati ketika menjadikan visibilitas empati sebagai ukuran empati itu sendiri, tetapi publik juga punya hak untuk menuntut sensitivitas. Di sisi lain, kritik terhadap budaya "hak privasi figur publik" juga diperlukan.
Ketika seseorang memilih tampil di ruang publik, ia memang tidak kehilangan seluruh hak pribadinya. Namun ia juga tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari konsekuensi sosial atas komunikasinya. Terlebih jika yang digunakan adalah simbol-simbol publik. Persoalannya bukan apakah publik boleh mengkritik Marissa atau tidak, namun pertanyaannya adalah bagaimana kritik tersebut dilakukan. Kritik yang sehat mempertanyakan tindakan, dan kritik yang tidak sehat menghakimi karakter. Mungkin persoalan terbesar dari kontroversi ini bukan Marissa Anita, bukan pula soal apakah perayaan kemerdekaan harus dibatalkan karena bencana.
Persoalan yang lebih besar adalah cara kita memandang manusia di era media sosial. Kita semakin terbiasa mencari kepastian dalam segala hal. Kita ingin tahu siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang harus dibela, dan siapa yang harus dihukum. Padahal demokrasi yang sehat justru membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama dengan kompleksitas. Kita bisa mengkritik sebuah tindakan tanpa membenci orangnya. Kita bisa berduka atas gempa Flores tanpa membatalkan makna kemerdekaan. Kita bisa merayakan kemerdekaan tanpa melupakan korban bencana, kita bisa meminta figur publik lebih sensitif tanpa menjadikan mereka sebagai sasaran persekusi digital.
Dan yang paling penting, kita bisa mengakui bahwa dua hal yang tampaknya bertentangan dapat sama-sama benar pada saat yang bersamaan. Itulah yang tidak bisa dilakukan oleh logika biner. Sudah waktunya ruang publik digital belajar meninggalkan kebiasaan mengubah setiap persoalan menjadi pertarungan dua kubu. Sebab di antara hitam dan putih, terdapat begitu banyak warna yang membuat kehidupan manusia menjadi manusiawi.***




