JAKARTA, Sisipublik.id — Teknologi kini semakin paradoks. Dulu manusia berharap hidup dengan serba cepat, tetapi hari ini teknologi justru dibangun untuk menghapus semua bentuk penantian itu. Semua orang merindukan nilai-nilai yang dahulu kita ubah. Pesan WhatsApp tiba dalam hitungan detik, email berpindah dari satu benua ke benua lain nyaris tanpa terasa. Media sosial memberi tahu apa yang sedang terjadi bahkan sebelum seseorang sempat bertanya. Namun, di tengah dunia yang semakin cepat itu, muncul sebuah fenomena yang justru bergerak ke arah sebaliknya. Lewat sebuah aplikasi bernama Carrier Pidge, kita dibawa ke masa lalu. Aplikasi pesan berbasis iPhone ini sengaja mengembalikan manusia pada pengalaman komunikasi yang lambat. Pesan tidak langsung masuk ke perangkat penerima. Pesan tersebut “dititipkan” kepada seekor merpati virtual yang kemudian terbang menuju lokasi penerima. Waktu perjalanan dihitung berdasarkan jarak nyata antara pengirim dan penerima. Dengan kecepatan sekitar 110 mil per jam (sekitar 177 kilometer per jam), pesan antarkota bisa membutuhkan waktu berjam-jam. Untuk jarak yang lebih jauh, pengguna bahkan harus menunggu sampai keesokan harinya.
Lebih menarik lagi, perjalanan merpati tersebut dapat dipantau melalui peta. Pengguna bisa melihat pesan mereka bergerak menuju tujuan, seperti seseorang yang dahulu menunggu kedatangan surat. Aplikasi ini tidak berusaha menjadi lebih cepat; ia justru menjual pengalaman menunggu. Di industri teknologi, keterlambatan biasanya dianggap sebagai masalah dan semua aplikasi dibuat agar semakin cepat. Server diperbesar agar waktu respons semakin pendek, jaringan dikembangkan agar video tidak buffering, pesan harus segera terkirim, dan penerima diharapkan segera membalas. Carrier Pidge mengambil logika yang hampir sepenuhnya berlawanan. Pesan yang dikirim tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi bahkan memiliki kemungkinan tidak sampai. Pengembangnya memasukkan peluang kecil sekitar 0,2 persen bahwa merpati virtual dapat hilang sehingga pesan gagal diterima. Dalam logika teknologi modern, Carrier Pidge ini terdengar seperti sebuah kegagalan. Namun, justru “kegagalan” itulah yang membuat aplikasi tersebut menarik.
Carrier Pidge seolah mengatakan bahwa tidak semua komunikasi harus berlangsung secara instan, tidak semua pesan harus segera dibalas, dan tidak setiap hubungan membutuhkan notifikasi setiap beberapa detik. Situs resmi Carrier Pidge bahkan secara terbuka menyatakan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk pesan yang “layak ditunggu”. Pengguna menulis, melepaskan pesan, kemudian membiarkan jarak menjadi bagian dari cerita. Selama dua dekade terakhir, dunia digital dibangun berdasarkan satu mantra: lebih cepat berarti lebih baik. Pesan yang dulu membutuhkan beberapa hari kini datang dalam hitungan detik. Namun, kecepatan itu membawa konsekuensi baru. Orang merasa harus segera membalas pesan. Pesan yang belum dijawab beberapa menit bisa menimbulkan pertanyaan, dan tidak segera merespons dianggap mengabaikan. Status online, typing, dan read receipt membuat komunikasi digital tidak hanya menjadi pertukaran informasi, tetapi juga semacam ruang pengawasan sosial.
Di sinilah Carrier Pidge menjadi menarik. Ia memberikan sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan digital: alasan untuk tidak segera merespons. Tidak ada tuntutan membalas dalam hitungan detik, serta tidak ada ekspektasi bahwa seseorang harus selalu berada di depan layar. Fenomena ini juga muncul bersamaan dengan berbagai bentuk nostalgia terhadap teknologi lama. Piringan hitam (vinyl) kembali populer, kamera analog kembali mendapatkan perhatian, serta surat dan kartu pos kembali menjadi bagian dari gaya hidup sebagian anak muda. Bahkan, muncul berbagai aplikasi yang sengaja memperlambat komunikasi digital. Carrier Pidge bukan satu-satunya. Aplikasi lain seperti Roost juga menawarkan komunikasi melalui hewan virtual dengan waktu pengiriman yang sengaja dibuat lambat. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna digital mulai menikmati sesuatu yang selama ini dianggap sebagai kekurangan teknologi: friksi dan penantian. Dengan kata lain, teknologi tidak lagi selalu digunakan untuk menghilangkan masa lalu, tetapi kadang-kadang justru digunakan untuk menghidupkan kembali pengalaman masa lalu yang pernah kita buang.
Carrier Pidge juga tidak harus dibaca sebagai penolakan terhadap teknologi. Aplikasi ini menunjukkan bahwa persoalannya mungkin bukan teknologi, melainkan bagaimana teknologi mengatur ritme kehidupan manusia. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia menentukan ritmenya sendiri. Namun dalam praktiknya, teknologi digital sering menciptakan ritme baru: cepat, responsif, terus terhubung, dan nyaris tanpa jeda. Mungkin kita sedang memasuki era “slow technology”. Yang menarik, fenomena Carrier Pidge datang ketika masyarakat digital mulai berbicara tentang digital fatigue—kelelahan akibat notifikasi, media sosial, dan tuntutan untuk selalu terkoneksi. Dalam situasi semacam itu, kelambatan bisa berubah menjadi kemewahan, menunggu bukan lagi sekadar ketidakmampuan teknologi, melainkan sebuah pilihan.
Carrier Pidge mungkin hanya aplikasi sederhana; bahkan pengembangnya sendiri menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak memiliki banyak kegunaan praktis. Namun, popularitasnya memperlihatkan bahwa sesuatu yang “tidak praktis” ternyata bisa menjawab kebutuhan psikologis manusia yang sangat praktis: kebutuhan untuk berhenti sejenak. Setelah manusia berhasil menciptakan teknologi yang mampu menghilangkan hampir semua bentuk penantian, manusia kini mulai menciptakan teknologi baru untuk merasakan penantian itu kembali.***




