Sisi Persona

Mereka Yang Terlupakan Dalam Sejarah

Sejarah sering kali mengingat tokoh-tokoh besar dibanding kerja-kerja kolektif yang melahirkan sebuah bangsa. Padahal kemerdekaan sebuah bangsa tidak lahir dari satu tangan.

14 Juli 202634 Kali Dilihat
Oleh: MG
Wikana

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengenang detik-detik ketika Soekarno membacakan teks Proklamasi di halaman rumah Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Dalam ruang ingatan kolektif bangsa, nama Soekarno dan Mohammad Hatta berdiri sebagai dua tokoh sentral yang mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Di belakang mereka, ada nama Ahmad Soebardjo, Sayuti Melik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh lain yang mulai mendapat tempat dalam narasi sejarah. Namun, di balik peristiwa monumental itu, terdapat banyak sosok yang nyaris menghilang dari buku pelajaran, monumen, bahkan dari ingatan publik. Sejarah memang sering kali memilih tokoh utama. Ia menyederhanakan sebuah peristiwa yang sesungguhnya lahir dari kerja kolektif menjadi kisah tentang beberapa figur besar.

Akibatnya, mereka yang berada di belakang layar—orang-orang yang menyediakan tempat berlindung, menjaga keamanan, menjadi penghubung, mengatur logistik, hingga mengambil keputusan-keputusan penting dalam situasi genting—kerap hanya disebut sepintas, bahkan tidak disebut sama sekali. Padahal, tanpa kehadiran mereka, jalan menuju Proklamasi mungkin tidak akan berlangsung seperti yang kita kenal hari ini.

Rengasdengklok, misalnya, selama ini lebih dikenal sebagai lokasi "penculikan" Soekarno dan Hatta oleh para pemuda. Akan tetapi, sedikit yang mengetahui bahwa di tempat itu terdapat tokoh-tokoh seperti Shodanco Singgih, Djiauw Kie Siong, dan Yusuf Kunto yang memainkan peran berbeda tetapi sama pentingnya. Ada pula Suhud yang sibuk mempersiapkan jalannya pembacaan Proklamasi, Latief Hendraningrat yang mengibarkan Sang Merah Putih, hingga Miyoshi, perwira Angkatan Laut Jepang yang memilih tidak menghalangi proses penyusunan naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Mereka bukan tokoh utama dalam panggung sejarah, tetapi justru menjadi penyangga yang memungkinkan peristiwa itu berlangsung.

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81, redaksi sisipublik.id akan mengulas 10 tokoh yang terlupakan dalam sejarah proklamasi. Siapakah mereka? Sisipublik.id mencatat setidaknya ada 10 nama di antaranya; Wikana, Sudiro, Miyoshi, Tadashi Maeda, Sukarni, Yusuf Kuntho, Shodanco Singgih, Djiaw Kie Siong, Latief Hendraningrat, dan Suhud.

Tulisan ini tidak bermaksud mengurangi arti peran para proklamator. Sebaliknya, artikel ini ingin memperluas cara pandang kita terhadap sejarah Proklamasi. Kemerdekaan Indonesia bukanlah karya seorang atau dua orang tokoh, melainkan hasil dari jejaring individu dengan latar belakang yang beragam.***

Wikana : Sosok Komunis Dalam Proklamasi Kita
Namanya jarang disebut di setiap perhelatan hari kemerdekaan Indonesia. Namun, tanpa prakarsanya, bukan tak mungkin kita bisa merayakan hari kemerdekaan setiap 17 Agustus.

Dalam suasana malam pekat mecekam, tak ada angin atau pun suara hewan malam. Soekarno bersama sekumpulan pemuda berkumpul dalam hening. Semuanya diam dalam bisu kebingungan, berfikir langkah apa yang harus dilakukan untuk bangsa ini. Pemerintah Jepang memang memberi janji kemerdekaan. Namun sekelompok pemuda mencurigai janji kolonial itu dan menyebutnya sebagai angin surga semata. Sekelompok pemuda di bawah pimpinan pemuda kurus kering mengajak ertemu dan berkumpul dengan Soekarno. Ya, malam itu adalah 15 Agustus 1945, pukul 22.30, di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, seorang pemuda kurus berkacamata berdiri berhadapan langsung dengan sang proklamator. Ia diutus rekan-rekannya dari Menteng 31 untuk menyampaikan satu tuntutan yang tidak bisa ditolak. Nama pemuda itu, Wikana.

Dengan suara tegas, Wikana memperingatkan Soekarno: jika proklamasi tidak diumumkan malam itu juga, esok hari akan terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran.  Mendengar itu, Soekarno tidak gentar. Ia berdiri, maju ke arah Wikana, dan berkata, "Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!" ujar Soekarno dengan muka tegang. Mendengar ucapan Soekarno dalam nada getir, para pemuda terdiam. Soekarno menguasai ruangan malam itu — namun Wikana dan kawan-kawannya belum selesai. Di antara kerumunan pemuda malam itu, tak ada yang mengenal jauh siapa Wikana sebenarnya. Pemuda ini lahir pada 18 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat, sebagai anak ke-14 dari 16 bersaudara dari keluarga menak — bangsawan lokal yang mendapat privilege pendidikan di era kolonial. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah. Dari keluarga inilah kesadaran politiknya bermula: kakaknya, Winanta, pernah dibuang ke kamp tahanan Boven Digoel oleh pemerintah Belanda akibat terlibat pemberontakan 1926, dan kisah itu kemudian diabadikan dalam buku yang disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Wikana mewarisi bara yang sama,--bara penentangan terhadap segala bentuk kedzaliman..

Setelah menyelesaikan pendidikan di Europeesch Lagere School — sekolah dasar kolonial berbahasa Belanda — lalu melanjutkan ke MULO di Bandung, Wikana belajar bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris secara autodidak. Penguasaan bahasa asingnya itulah yang kelak membukakan pintu bagi dirinya ke jaringan pergerakan internasional. Ia bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu bergerak di bawah tanah setelah dilarang kolonial pasca pemberontakan 1926. Bersama Adam Malik dan Pandu Kartawiguna, ia pernah ditangkap Belanda karena menyebarkan koran ilegal Menara Merah di Jawa Barat, sebelum akhirnya dibebaskan saat Jepang menggantikan kekuasaan Belanda. Di masa pendudukan Jepang, Wikana bergerak cerdas. Ia bergabung di Asrama Indonesia Merdeka — sekolah kader pemuda yang dibentuk oleh kalangan intelijen Angkatan Laut Jepang, di bawah naungan Laksamana Tadashi Maeda. Dengan menggunakan nama samaran Raden Sunoto, Wikana menjalin kedekatan personal dengan Maeda.

Hubungan inilah yang kemudian memainkan peran menentukan: ketika proklamasi harus dirumuskan dalam semalam, Wikana-lah yang membuka pintu rumah dinas Maeda di Menteng sebagai tempat yang aman dari pengawasan militer Jepang darat. Ketika kabar kekalahan Jepang menyebar pada 15 Agustus 1945, para pemuda Menteng 31 tidak mau menunggu. Mereka mengirim Wikana bersama Darwis untuk menemui Soekarno dan Hatta, menuntut proklamasi dikumandangkan malam itu juga — tanpa menunggu sidang PPKI, tanpa menunggu restu Jepang, tanpa menunggu apapun. Soekarno menolak. Pertemuan itu berakhir panas. Esok subuhnya, 16 Agustus 1945 pukul 03.00, bersama Chaerul Saleh dan Sukarni, Wikana ikut dalam rangkaian aksi yang membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok — sebuah kota kecil di Karawang, Jawa Barat, jauh dari pengaruh garnisun Jepang di Jakarta. Di sana Soekarno dan Hatta diamankan di rumah seorang petani Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong.

 

Pemuda Pembocor Rahasia dan Pengatur Logistik

 

Ironisnya, Wikana pula yang tanpa sengaja menjadi penyebab berakhirnya peristiwa itu. Didesak oleh Ahmad Subardjo, ia akhirnya membocorkan lokasi persembunyian kedua pemimpin bangsa. Subardjo segera menjemput Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, dan malam harinya teks proklamasi dirumuskan di rumah Maeda — berkat koneksi yang dibangun Wikana sendiri. AM Hanafi, rekan sesama Menteng 31, mengaku marah besar atas kebocoran itu. Wikana hanya bisa menerima dengan muka pucat sambil mengakui kesalahannya. Namun sejarah tidak berhenti di sana. Pada 17 Agustus 1945, proklamasi yang diperjuangkan mati-matian itu akhirnya berkumandang dari Jalan Pegangsaan Timur 56. Wikana-lah yang mengatur seluruh logistik upacara, termasuk membujuk aparat militer Jepang agar tidak mengganggu jalannya pembacaan teks proklamasi.

Pasca kemerdekaan, Wikana dipercaya menjabat Menteri Negara Urusan Pemuda dalam Kabinet Sjahrir II dan III, kemudian berlanjut di Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II — menjadikannya Menteri Urusan Pemuda pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Ia juga sempat ditunjuk sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta. Namun setelah peristiwa Madiun 1948, posisinya dilucuti dan digantikan oleh Gatol Subroto. Kariernya terus merosot. Ketika DN Aidit memimpin kebangkitan PKI di era 1950-an, Wikana tersisih dari lingkaran dalam partai — dianggap terlalu dekat dengan dunia intelijen untuk dipercaya sepenuhnya. Wikana kemudian hidup di kawasan padat di Jalan Dempo Nomor 7A, Matraman, Jakarta Timur. Chairul Saleh — teman seperjuangannya di Menteng 31 yang kini menjabat Ketua MPRS — masih sempat mengangkatnya sebagai anggota MPRS. Itu satu-satunya tali penghubung yang tersisa antara Wikana dan panggung kekuasaan.

Ketika peristiwa G30S meletus pada 1 Oktober 1965, Wikana sedang berada di Beijing bersama sejumlah tokoh PKI lainnya untuk menghadiri perayaan hari nasional Tiongkok. Setelah situasi di tanah air memanas, ia memilih kembali ke Indonesia. Itu keputusan yang tidak pernah bisa diralat. Kurang dari setahun setelah G30S, sekelompok tentara yang tidak dikenal mendatangi rumahnya di Jalan Dempo dan membawanya pergi. Tak ada surat penangkapan yang diketahui publik. Tak ada pengadilan. Tak ada kabar. Wikana — pemuda yang pernah membuat Soekarno naik pitam, yang membuka pintu rumah Laksamana Maeda agar proklamasi bisa dirumuskan dengan aman, yang menjadi Menteri Urusan Pemuda pertama republik ini — hilang tanpa jejak, tanpa kuburan, tanpa nama di buku sejarah yang dibaca anak-anak sekolah. Nasibnya diduga serupa dengan ribuan korban pembantaian massal 1965-1966. Tapi berbeda dari kebanyakan korban, Wikana adalah salah satu orang yang ikut memastikan Indonesia punya tanggal 17 Agustus untuk diperingati.***

Artikel Terkait

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi

Artikel ini mengulas tentang pentingnya mengakui peran masyarakat akar rumput dan tokoh-tokoh daerah yang sering terlupakan dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Secara khusus, tulisan ini menyoroti sosok Shodanco Singgih, seorang komandan peleton PETA di Rengasdengklok. Dalam Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, Singgih bertanggung jawab menjaga keamanan Soekarno dan Mohammad Hatta dari potensi bentrokan atau campur tangan tentara Jepang. Keberhasilannya menciptakan kondisi yang aman di Rengasdengklok memungkinkan terciptanya kesepakatan antara golongan muda dan golongan tua untuk melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kisah Shodanco Singgih menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kolaborasi dan pengorbanan banyak pihak yang bekerja di balik layar, bukan hanya para tokoh besar nasional.

6 Agu 2026
Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada

Obituari John L. Esposito, akademisi Katolik-Amerika yang mendedikasikan hidupnya sebagai jembatan pemikiran antara dunia Islam dan Barat. Lewat karya dan dialog antariman, ia mematahkan stigma negatif serta menyuguhkan wajah Islam yang ramah, moderat, dan inklusif.

24 Jul 2026
Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih

Dalam historiografi Indonesia, Suhud Sastro Kusumo sering kali hanya disebut secara singkat sebagai "pendamping Latief Hendraningrat". Akibatnya, riwayat hidup dan kiprahnya di luar peristiwa Proklamasi kurang mendapat perhatian.

23 Jul 2026
Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir

Berbekal keteguhan dalam memegang komitmen, ditambah kepandaiannya dalam berkomunikasi merubah takdir hidup seorang Basrizal Koto. Semula, lahir dari keluarga dengan banyak keterbatasan membuatnya menjadi sosok inspiratif untuk komunitasnya.

21 Jul 2026