Sisi Utama

Muktamar NU, Arena Gagasan atau Sekadar Rebutan Jabatan?

Menyambut Muktamar NU, Membaca Kembali Jalan Panjang Nahdlatul Ulama Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih kepengurusan baru. Ia merupakan momentum penting untuk membaca kembali perjalanan, gagasan, sekaligus arah masa depan organisasi yang telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Menyambut Muktamar NU, Sisipublik.id menghadirkan serial tulisan tentang Muktamar dan ke-NU-an. Serial ini tidak semata membicarakan dinamika suksesi atau pertarungan kepentingan di dalam organisasi, tetapi mencoba melihat NU dari berbagai sisi: sejarah kelahirannya, tradisi keilmuan, kiprah sosial, hubungan dengan politik dan kekuasaan, peran pesantren, regenerasi kader, hingga tantangan NU menghadapi perubahan zaman. Serial ini berangkat dari satu kesadaran sederhana: memahami masa depan NU membutuhkan keberanian untuk membaca kembali sejarahnya. NU bukan hanya sebuah organisasi. Ia adalah tradisi, jaringan pesantren, ruang kebudayaan, kekuatan masyarakat sipil, sekaligus bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Melalui serial ini, Sisipublik.id mengajak pembaca melihat Muktamar NU bukan hanya sebagai peristiwa organisasi, tetapi sebagai momentum untuk bertanya: NU hendak dibawa ke mana, dan apa yang sesungguhnya dibutuhkan umat serta bangsa dari NU? Selamat membaca, tulisan serial ketiga. Menjelang muktamar, perhatian publik kerap tersedot pada satu pertanyaan: siapa yang akan menduduki kursi kepemimpinan NU? Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang akan diperjuangkan setelah kursi itu didapat. Muktamar seharusnya menjadi ruang pertarungan gagasan tentang masa depan NU dan bangsa, bukan sekadar arena menghitung dukungan, membangun koalisi, dan berebut jabatan.

24 Agustus 2026•3 Kali Dilihat
Oleh: Leqom
NU

Kredit: Ilustration by Ai

JAKARTA, Sisipublik.id — Muktamar Nahdlatul Ulama semestinya bukan sekadar peristiwa pergantian kepemimpinan tahunan, melainkan momentum krusial bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia untuk menengok kembali perjalanan sejarahnya, membaca perubahan zaman, serta merumuskan arah masa depan. Di sinilah muktamar berhadapan langsung dengan tantangan klasiknya: apakah ia akan menjadi arena pertarungan gagasan yang substantif, atau justru terdegradasi menjadi sekadar tempat perebutan jabatan struktural semata? Dalam tradisi dasar NU, kepemimpinan idealnya tidak pernah dipandang sebagai posisi politik semata, melainkan sebuah amanah moral yang berat. Kekuasaan organisasi seharusnya digunakan untuk memperkuat skala dan kualitas khidmah, bukan malah dijadikan sebagai tujuan akhir dari pengabdian itu sendiri. Namun, dalam organisasi dengan basis massa sebesar NU, posisi kepemimpinan tentu membawa konsekuensi politik, sosial, dan ekonomi yang sangat signifikan. NU mengelola jaringan pesantren yang masif, puluhan lembaga pendidikan, badan usaha, organisasi sosial, serta relasi strategis yang luas dengan berbagai aktor politik maupun pemerintah. Siapa pun yang dipercaya memegang kendali kepemimpinan NU dipastikan memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap arah gerak organisasi ke depan. Karena besarnya taruhan tersebut, muktamar sangat rentan bergeser menjadi arena perebutan pengaruh politik praktis. Kontestasi yang semula diniatkan sehat untuk memilih figur terbaik bisa saja terdistorsi menjadi kompetisi soal siapa yang memiliki jaringan elit paling kuat dan modal konsolidasi suara paling luas.

Jika kompetisi pragmatis itu yang mendominasi, maka persoalan mendasarnya bukan lagi tentang siapa kandidat yang menang dan siapa yang kalah. Kekhawatiran terbesarnya justru terletak pada apa yang akan terjadi dengan konsolidasi NU setelah seluruh rangkaian pertarungan politik itu usai. Organisasi yang sehat tidak boleh berhenti hanya pada merayakan kemenangan elektoral figur tertentu. Setelah riuh muktamar selesai, NU tetap dituntut untuk menghadapi penanganan kemiskinan warga, ketimpangan akses pendidikan, krisis lingkungan hidup, hingga percepatan disrupsi kecerdasan buatan. Tantangan kebangsaan lain seperti dinamika generasi muda, intoleransi, korupsi, dan ketimpangan ekonomi juga terus menanti respons konkret dari kepengurusan yang baru. NU sendiri lahir dalam konteks sejarah yang sangat berbeda dengan era digital hari ini. Pada masa awal berdirinya, para pendiri NU berhadapan langsung dengan tantangan kolonialisme, perubahan struktur sosial masyarakat tradisional, dan kebutuhan untuk membentengi tradisi keagamaan Islam Nusantara. Saat ini, tantangan yang dihadapi generasi muda NU jauh lebih kompleks karena mereka tumbuh dalam ruang digital yang nyaris tanpa batas. Otoritas keagamaan kini tidak lagi terpusat di pesantren atau majelis taklim, melainkan terfragmentasi oleh kehadiran figur-figur baru di media sosial. Di tengah pergeseran lanskap tersebut, NU dituntut melahirkan gagasan-gagasan keagamaan baru yang relevan tanpa harus kehilangan akar tradisinya.

Ada bahaya mendasar yang harus dihindari, yakni ketika muktamar lebih banyak diwarnai transaksi politik ketimbang ruang transformasi organisasi. Politik dalam tubuh organisasi tentu merupakan hal wajar sebagai bagian dari dinamika demokrasi internal. Namun, menjadi sangat berbahaya apabila politik tersebut kehilangan pijakan gagasan dan hanya didasarkan pada kalkulasi kepentingan kelompok semata. Lebih buruk lagi jika jutaan warga NU hanya ditempatkan sebagai penonton pasif dari pertarungan para elit di tingkat atas. Padahal, kekuatan sejati NU berada di akar rumput: di pesantren, madrasah, sekolah, kampus, komunitas petani, nelayan, serta generasi muda yang membutuhkan solusi atas tantangan zaman.

Ukuran keberhasilan muktamar semestinya tidak diukur sebatas pada terpilihnya Ketua Umum baru atau terbentuknya susunan kepengurusan struktural. Forum tertinggi ini harus melahirkan rincian agenda strategis, seperti peningkatan mutu pendidikan pesantren, kemandirian ekonomi warga, serta perluasan peran kepemimpinan perempuan dan pemuda. Selain itu, NU perlu menegaskan garis independensi moralnya saat bermitra dengan negara agar tetap memiliki keberanian kritis dalam membela kepentingan rakyat. Muktamar juga harus dihayati sebagai ajang rekonsiliasi kebangsaan, di mana kelompok yang berbeda pilihan dapat kembali bersatu pascamuktamar demi mewujudkan visi khidmah yang semakin berdampak bagi masyarakat luas.

Artikel Terkait

Pendidikan Gratis: Janji Keadilan Sosial atau Ujian Baru APBN?

Pendidikan Gratis: Janji Keadilan Sosial atau Ujian Baru APBN?

Dinamika dan wacana kebijakan pendidikan negeri gratis—dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Di satu sisi, gagasan ini disambut positif oleh masyarakat dan DPR sebagai wujud keadilan sosial serta pemerataan akses pendidikan. Di sisi lain, muncul berbagai pertimbangan kritis mengenai kesiapan dan keberlanjutan APBN, kejelasan cakupan biaya yang digratiskan, kestabilan sumber pembiayaan (termasuk efektivitas penggunaan asset recovery korupsi), hingga tantangan dalam menjaga mutu dan fasilitas pendidikan tanpa mengorbankan sektor strategis lainnya.

22 Sep 2026
Kepala Daerah di Mata Anak Muda Antara Kinerja, Persepsi dan Popularitas

Kepala Daerah di Mata Anak Muda Antara Kinerja, Persepsi dan Popularitas

Popularitas seorang kepala daerah di media sosial belum tentu menggambarkan keberhasilan pemerintahannya. Di kalangan anak muda, pemimpin daerah ideal bukan hanya yang sering muncul di layar ponsel, tetapi yang mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

21 Sep 2026
Tragedi Keracunan MBG dan Ujian Akuntabilitas Pejabat Negara

Tragedi Keracunan MBG dan Ujian Akuntabilitas Pejabat Negara

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu krisis keracunan masif yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah. Simak ulasan mendalam mengenai kegagalan sistemik BGN serta ujian akuntabilitas para pejabat negara dan anggota DPR dapil

16 Sep 2026
Di Balik Ompreng MBG: Keracunan Massal 3.000+ Siswa, Tuntutan Evaluasi Program MBG

Di Balik Ompreng MBG: Keracunan Massal 3.000+ Siswa, Tuntutan Evaluasi Program MBG

Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada lebih dari 3.000 warga sekolah di Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga NTB. Dipicu kontaminasi bakteri berbahaya seperti Bacillus cereus, S. aureus, dan E. coli, insiden ini memicu gelombang penolakan warga sekolah serta tuntutan transparansi investigasi dari BGN.

14 Sep 2026