JAKARTA, Sisipublik.id — Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama (NU): apakah NU masih menarik bagi Generasi Z? Pertanyaan ini bukan semata-mata soal apakah anak muda masih datang ke pengajian, mengikuti kegiatan pesantren, atau mengenakan atribut NU. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah nilai, tradisi, pemikiran, dan cara berorganisasi NU masih mampu berbicara dalam bahasa generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan budaya digital. Gen Z tidak tumbuh dalam dunia yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka lahir dan besar ketika informasi berada di ujung jari. TikTok, Instagram, YouTube, podcast, dan berbagai platform digital bukan sekadar sarana hiburan, melainkan telah menjadi ruang belajar, mencari identitas, membangun pertemanan, membentuk opini, bahkan menemukan sosok yang dianggap layak dipercaya.
Dalam ruang seperti itu, otoritas tidak selalu ditentukan oleh jabatan, usia, atau status kelembagaan. Seseorang bisa menjadi rujukan karena gagasannya menarik, cara komunikasinya relevan, dan kemampuannya menjawab kegelisahan anak muda. NU memiliki sejarah panjang, tradisi intelektual yang kuat, jaringan pesantren yang luas, serta pengalaman mendalam dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Namun, sejarah yang panjang tidak otomatis membuat sebuah organisasi tetap menarik bagi generasi baru. Justru karena memiliki tradisi yang besar, NU harus mampu menjelaskan mengapa tradisi itu masih penting bagi kehidupan anak muda hari ini. Gen Z tidak cukup hanya diberi tahu bahwa sesuatu merupakan tradisi yang harus dihormati; mereka cenderung ingin mengetahui alasan di baliknya. Mereka bertanya, mempertanyakan, membandingkan, bahkan terkadang meragukan.
Bagi sebagian orang, sikap semacam ini mungkin terlihat sebagai bentuk kurangnya penghormatan kepada tradisi. Namun, dari perspektif lain, itulah karakter generasi yang hidup dalam budaya informasi terbuka. Tantangan NU bukan bagaimana membuat Gen Z menjadi seperti generasi sebelumnya, melainkan bagaimana NU tetap menjadi NU tanpa kehilangan kemampuan berbicara kepada generasi yang berbeda. TikTok sering dipandang sebagai simbol budaya serba cepat. Video pendek, musik, tren, humor, dan algoritma membuat perhatian pengguna bergerak sangat cepat dari satu konten ke konten lainnya. Namun, melihat TikTok hanya sebagai tempat hiburan akan membuat NU kehilangan salah satu ruang publik paling penting bagi generasi muda. Di TikTok, orang belajar banyak hal. Mereka mencari resep, memahami isu politik, belajar bahasa, mengetahui sejarah, mengenal agama, mengikuti perkembangan teknologi, bahkan menemukan perspektif baru tentang kehidupan.
Artinya, persoalannya bukan apakah NU perlu masuk TikTok—sebab NU sebenarnya sudah dan akan terus berhadapan dengan ruang digital tersebut. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dibawa NU ke dalam ruang tersebut? Jika kehadiran NU hanya berupa potongan ceramah yang panjang, kutipan normatif, dokumentasi acara, atau konten yang terlalu formal, jangan heran jika anak muda merasa tidak menemukan dirinya di sana. Masalahnya bukan karena Gen Z tidak menyukai NU, melainkan karena cara NU berkomunikasi belum selalu sesuai dengan cara mereka mengonsumsi informasi. Anak muda tidak selalu menolak substansi; sering kali mereka hanya tidak menemukan substansi tersebut dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika NU berbicara tentang toleransi, mengapa tidak menyampaikannya melalui pengalaman nyata anak muda yang berteman dengan orang berbeda agama?
Ketika berbicara tentang fikih, mengapa tidak menghubungkannya dengan persoalan lingkungan, ekonomi digital, pinjaman daring, kecerdasan buatan, pekerjaan masa depan, atau etika di media sosial?
Ketika berbicara tentang Islam rahmatan lil 'alamin, mengapa tidak menjelaskan bagaimana nilai itu bekerja ketika seorang anak muda menghadapi cyberbullying, ujaran kebencian, tekanan sosial, atau kecemasan menghadapi masa depan?
Namun, ada satu jebakan lain yang harus dihindari: menjadi relevan tidak berarti NU harus berpura-pura menjadi anak muda. Tidak semua tokoh NU harus menggunakan bahasa slang, tidak semua kiai harus membuat konten joget, tidak semua pengajian harus dipaksa menjadi video 30 detik, dan tidak semua tradisi harus dikemas seperti konten hiburan. Gen Z justru dapat membedakan mana yang autentik dan mana yang dibuat-buat. Yang dibutuhkan adalah keaslian komunikasi. NU tidak harus mengubah identitasnya agar disukai anak muda; yang perlu diubah adalah cara menjelaskan identitas tersebut. Tradisi tidak harus dibuang agar terlihat modern, melainkan bisa dijelaskan dengan bahasa modern. Pesantren tidak harus meninggalkan kitab kuning agar menarik bagi Gen Z, melainkan justru menunjukkan mengapa tradisi intelektual yang diwariskan selama berabad-abad masih relevan dengan dunia hari ini.
NU tidak perlu menjadi organisasi yang berbeda untuk mendapatkan perhatian Gen Z. NU hanya perlu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dimilikinya masih mampu menjawab persoalan generasi baru. Namun, tantangan NU dengan Gen Z sebenarnya lebih besar daripada sekadar strategi media sosial; Gen Z juga akan mempertanyakan ruang partisipasi. Mereka ingin didengar, bukan hanya diberi ceramah. Mereka ingin dilibatkan, bukan sekadar dijadikan sasaran program. Mereka membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat, termasuk ketika pendapat itu berbeda dari generasi yang lebih tua. Jika anak muda hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, pengisi acara, pengelola media sosial, atau penghias panggung, sulit berharap mereka merasa memiliki organisasi. Gen Z membutuhkan kesempatan untuk menjadi pengambil keputusan, perumus program, peneliti, penggerak komunitas, dan produsen pengetahuan.
Generasi muda tidak akan benar-benar merasa memiliki sebuah organisasi hanya karena mereka diberi akun media sosial untuk dikelola. Mereka akan merasa memiliki ketika gagasan mereka dianggap penting dan kehadiran mereka mempunyai konsekuensi nyata terhadap arah organisasi. Bagi generasi muda, media sosial adalah ruang kehidupan, bukan sekadar alat publikasi. NU memiliki peluang besar untuk hadir dalam proses tersebut. Misalnya, NU dapat membangun ekosistem kreator muda yang memahami tradisi keislaman sekaligus menguasai budaya digital. Mereka tidak harus menjadi "corong organisasi", melainkan penerjemah nilai-nilai NU ke dalam bahasa generasi mereka sendiri. Seorang kreator muda NU bisa berbicara tentang fikih dengan bahasa sederhana. Kreator lain dapat membahas sejarah NU melalui video pendek. Sementara yang lain bisa membahas isu pesantren, lingkungan, ekonomi, perempuan, pendidikan, teknologi, demokrasi, atau kebudayaan dari perspektif anak muda NU. Dengan demikian, digitalisasi NU tidak berhenti pada kepemilikan akun resmi, melainkan pada pembangunan ekosistem pengetahuan dan percakapan.
Ukuran keberhasilan NU di era digital tidak semestinya berhenti pada jumlah pengikut. Jutaan views belum tentu menghasilkan satu kader, ribuan likes belum tentu melahirkan satu gagasan, dan konten viral belum tentu berarti relevan. NU perlu memikirkan bagaimana perhatian digital dapat dikonversi menjadi keterlibatan sosial yang nyata. Anak muda yang menemukan konten NU di TikTok harus memiliki jalan untuk melangkah lebih jauh: membaca, berdiskusi, mengikuti komunitas, belajar, dan melakukan kegiatan sosial hingga akhirnya menjadi bagian dari gerakan NU. Dengan kata lain, TikTok seharusnya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah membangun generasi yang memahami nilai-nilai NU sekaligus mampu menerjemahkannya ke dalam persoalan zaman.
Jika Muktamar NU hendak berbicara tentang masa depan organisasi, masa depan itu tidak bisa dibicarakan tanpa Gen Z. Generasi muda bukan sekadar kelompok demografis yang didekati menjelang kegiatan organisasi. Mereka adalah generasi yang dalam beberapa tahun ke depan akan mengambil posisi penting di berbagai sektor kehidupan—menjadi guru, pengusaha, akademisi, pekerja teknologi, jurnalis, birokrat, politisi, aktivis, seniman, pemimpin komunitas, dan tentu saja pemimpin NU. Karena itu, muktamar semestinya tidak hanya membicarakan siapa yang memimpin NU hari ini, tetapi juga NU seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pada akhirnya, persoalan NU dan Gen Z bukan sekadar tentang TikTok. TikTok hanyalah simbol dari perubahan yang lebih besar: perubahan cara manusia berkomunikasi, belajar, mencari otoritas, membangun identitas, dan membentuk komunitas.
Jika hari ini TikTok menjadi ruang utama perhatian anak muda, besok bisa saja platform lain menggantikannya. Oleh karena itu, NU tidak boleh terjebak pada pertanyaan teknis tentang platform mana yang harus digunakan. Jika mampu menerjemahkan nilai-nilainya secara relevan, di mana pun generasi muda membangun ruang sosialnya, nilai-nilai NU akan tetap bisa hadir. Sebaliknya, jika NU hanya sibuk mempertahankan cara lama tanpa memahami perubahan masyarakat, bukan tidak mungkin generasi muda akan menemukan jawaban atas pertanyaan hidup mereka di tempat lain.***




