JAKARTA.sisipublik.id - Ada masa ketika Islam di mata Barat lebih sering hadir sebagai bayang-bayang yang menakutkan. Ia muncul di halaman depan surat kabar bersama berita perang, hadir dalam gambar-gambar gedung yang runtuh, ledakan, dan wajah-wajah yang berlari menyelamatkan diri. Ia dibicarakan dalam ruang-ruang politik sebagai ancaman, di mana Islam kerap disederhanakan menjadi satu kata: ekstremisme. Esposito berhasil menyuguhkan Islam dalam wajah yang ramah dan moderat sehingga dapat berdialog dan diterima oleh dunia Barat. Di tengah arus besar itulah John L. Esposito memilih jalan yang berbeda, yaitu memilih untuk mendengarkan. Ia bukan mendengarkan suara yang paling keras, melainkan suara yang paling sering diabaikan. Ia mencoba memahami Islam bukan dari kejauhan maupun semata-mata dari laporan konflik dan kekerasan, melainkan dari sejarah, masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari umat Muslim. Esposito sendiri bukan seorang Muslim, melainkan lahir dan tumbuh sebagai seorang Katolik-Amerika. Namun, sebagian besar hidup intelektualnya justru dihabiskan untuk memahami Islam dan dunia Muslim, yang barangkali menjadi paradoks sekaligus kekuatan utama perjalanan hidupnya.
Seorang yang datang dari Barat berusaha keras memahami Timur dengan penuh empati dan keterbukaan. Seorang yang lahir dalam tradisi Kristen menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mempelajari Islam secara mendalam. Dan seorang akademisi memilih menjadikan pengetahuan sebagai jembatan di tengah dunia yang semakin gemar membangun tembok pemisah. Pendekatan inklusif ini menjadikan pandangannya sangat dihormati oleh kalangan akademisi maupun masyarakat umum di seluruh dunia. John Louis Esposito lahir di Brooklyn, New York, pada 19 Mei 1940. Ia tumbuh dalam lingkungan Amerika yang religius dan kemudian menempuh pendidikan filsafat serta teologi. Namun, perjalanan akademiknya perlahan membawanya ke dunia yang lebih luas, yaitu bidang studi Islam. Ia belajar bahasa Arab dan mendalami sejarah serta pemikiran Islam secara intensif. Pendidikan doktoralnya di Temple University mengantarkannya menjadi salah satu sarjana terkemuka dalam kajian Islam modern. Di Georgetown University, tempat ia kemudian membangun sebagian besar karier akademiknya, Esposito menjadi profesor agama dan hubungan internasional. Ia juga menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan kajian hubungan Muslim-Kristen. Bagi Esposito, agama bukan sekadar persoalan iman yang berada di ruang privat, melainkan hidup di tengah masyarakat. Agama senantiasa bersentuhan langsung dengan politik, ekonomi, budaya, demokrasi, hak asasi manusia, dan perubahan sosial.
Bagi Esposito, memahami Islam tidak mungkin dilakukan hanya dengan satu kacamata karena Islam sangat beragam dan bukan sebuah blok tunggal. Keberagaman itulah yang sering hilang ketika Islam hanya dilihat melalui lensa tunggal politik kekerasan. Nama Esposito semakin dikenal luas ketika dunia memasuki babak baru setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Saat itu, pertanyaan tentang Islam tiba-tiba menjadi pusat perhatian dan berkaitan erat dengan isu keamanan dunia.
Siapa Muslim? Apakah Islam identik dengan terorisme? Apakah demokrasi dan Islam dapat berjalan bersama? Dan apakah dunia Muslim adalah ancaman bagi Barat? Pertanyaan-pertanyaan itu beredar luas di televisi, surat kabar, ruang akademik, hingga gedung-gedung pemerintahan. Esposito masuk ke tengah perdebatan hangat itu dan secara tegas menolak cara pandang yang menyamakan Islam dengan terorisme. Baginya, tindakan ekstrem dari kelompok kecil tidak dapat digunakan untuk menjelaskan keseluruhan agama dan masyarakat Muslim.
Dalam bukunya Unholy War: Terror in the Name of Islam, Esposito berusaha membaca fenomena terorisme dalam konteks sosial-politik yang lebih luas. Ia tidak membenarkan kekerasan, tetapi ia juga tidak menerima penyederhanaan bahwa kekerasan politik dapat dijelaskan hanya dengan menyebut agama sebagai penyebab tunggalnya. Ia percaya bahwa ketakutan sering kali lahir dari ketidaktahuan, dan ketidaktahuan harus dilawan dengan pengetahuan. Buku-bukunya inilah yang kemudian menjadi pintu masuk utama bagi banyak masyarakat Barat untuk mengenal Islam secara objektif. Karyanya yang berjudul Islam: The Straight Path menjadi salah satu buku penting yang memperkenalkan sejarah, keyakinan, dan perkembangan Islam. Buku tersebut dibaca luas oleh lingkungan akademik maupun masyarakat umum di berbagai negara. Sementara itu, dalam buku The Islamic Threat: Myth or Reality?, Esposito mempertanyakan kembali cara dunia Barat melihat Islam sebagai ancaman. Pertanyaan yang diajukannya terbilang sederhana, tetapi sanggup mengguncang cara berpikir mendasar yang telah lama terbentuk.
Di tengah hubungan Muslim dan Kristen yang kerap dibebani sejarah panjang konflik, ia percaya bahwa dialog bukanlah sekadar pertemuan seremonial. Dialog adalah usaha sungguh-sungguh untuk memahami perbedaan tanpa harus menghapus identitas masing-masing pihak. Di Georgetown University, ia menjadi salah satu tokoh pendorong utama pengembangan pusat kajian hubungan Muslim-Kristen. Baginya, perjumpaan antaragama harus dimulai dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak selalu memahami orang lain secara utuh. Mungkin hal tersebut terdengar sederhana, namun justru di situlah letak akar permasalahannya. Dunia sering kali terlalu cepat menilai sebelum mengenal, terlalu cepat berbicara sebelum mendengar, dan terlalu cepat memberi label sebelum memahami. Esposito memilih jalan sebaliknya dengan belajar dan meneliti terlebih dahulu secara mendalam. Pada akhirnya, John L. Esposito mungkin tidak dikenang karena berhasil menemukan satu jawaban mutlak tentang Islam, sebab ia memang tidak menawarkan satu jawaban tunggal.
Warisan terbesarnya justru terletak pada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang ia tinggalkan bagi peradaban modern. Bagaimana Barat memahami Islam? Bagaimana umat Islam memahami Barat? Bisakah agama dan demokrasi berjalan bersama? Mengapa ekstremisme tumbuh, dan mengapa Islam sering dilihat melalui kacamata ketakutan? Dan yang paling penting: bagaimana manusia dari tradisi yang berbeda dapat hidup berdampingan tanpa harus saling mencurigai? Sebab dunia hari ini masih dipenuhi prasangka, di mana media sosial mempercepat kemarahan dan politik identitas mempersempit ruang dialog. Perbedaan agama dan budaya sering kali digunakan untuk membangun batas tebal antara 'kita' dan 'mereka'. Di tengah situasi seperti itu, perjalanan intelektual Esposito mengingatkan satu hal yang sederhana tetapi sering dilupakan. Kini, sang jembatan Islam-Barat itu telah tiada dan meninggalkan warisan intelektual yang amat berharga. Seperti kata intelektual Muslim Ulil Abshar Abdalla, kita kehilangan tokoh besar yang bisa menjembatani Islam-Barat, namun kita dapat terus membaca pikiran-pikiran jernih dalam karya yang ditinggalkannya.
Obituari John L. Esposito: Jembatan Islam-Barat Itu Telah Tiada
Obituari John L. Esposito, akademisi Katolik-Amerika yang mendedikasikan hidupnya sebagai jembatan pemikiran antara dunia Islam dan Barat. Lewat karya dan dialog antariman, ia mematahkan stigma negatif serta menyuguhkan wajah Islam yang ramah, moderat, dan inklusif.

Artikel Terkait

Mereka yang Terlupa Sepanjang Proklamasi
Artikel ini mengulas tentang pentingnya mengakui peran masyarakat akar rumput dan tokoh-tokoh daerah yang sering terlupakan dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Secara khusus, tulisan ini menyoroti sosok Shodanco Singgih, seorang komandan peleton PETA di Rengasdengklok. Dalam Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, Singgih bertanggung jawab menjaga keamanan Soekarno dan Mohammad Hatta dari potensi bentrokan atau campur tangan tentara Jepang. Keberhasilannya menciptakan kondisi yang aman di Rengasdengklok memungkinkan terciptanya kesepakatan antara golongan muda dan golongan tua untuk melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kisah Shodanco Singgih menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kolaborasi dan pengorbanan banyak pihak yang bekerja di balik layar, bukan hanya para tokoh besar nasional.
6 Agu 2026Suhud S. Kusumo Sang Pengibar Merah Putih
Dalam historiografi Indonesia, Suhud Sastro Kusumo sering kali hanya disebut secara singkat sebagai "pendamping Latief Hendraningrat". Akibatnya, riwayat hidup dan kiprahnya di luar peristiwa Proklamasi kurang mendapat perhatian.
23 Jul 2026
Basrizal Koto dan Kunci Menaklukan Takdir
Berbekal keteguhan dalam memegang komitmen, ditambah kepandaiannya dalam berkomunikasi merubah takdir hidup seorang Basrizal Koto. Semula, lahir dari keluarga dengan banyak keterbatasan membuatnya menjadi sosok inspiratif untuk komunitasnya.
21 Jul 2026
Latief Hendraningrat: Penjaga Detik-Detik Kelahiran Republik
Nama Latief Hendraningrat lebih sering dikenang sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pertama, padahal perannya jauh lebih luas. Ia adalah seorang perwira PETA yang bertanggung jawab atas keamanan upacara Proklamasi sekaligus bagian dari jaringan militer yang mendukung proses lahirnya Republik. Sejarawan menilai bahwa tanpa kesiapan tokoh-tokoh seperti Latief, upacara Proklamasi berpotensi menghadapi gangguan dari pihak militer Jepang.
20 Jul 2026