Sisi Utama

Pengibaran Foto Presiden dalam Perayaan HUT RI : Antara Simbol Kekuasaan dan Personalisasi Politik

Perayaan kemerdekaan estinyma menjadi ruang untuk meneguhkan penghormatan kepada negara, bukan mengkultuskan sosok yang sedang berkuasa. Foto Presiden Prabowo Subianto yang diterbangkan di langit dalam rangkaian perayaan HUT RI, mengundang pertanyaan di mana batas antara penghormatan kepada kepala negara dan praktik politik yang berlebihan? Ini bukan soal estetika seremoni, melainkan juga menyentuh persoalan etika kekuasaan, budaya politik, dan kecenderungan sebagian elite mempertontonkan loyalitas secara berlebihan.

18 Agustus 2026•14 Kali Dilihat
Oleh: Leqom
pengibaran foto presiden

Kredit: FAJAR.co.id

JAKARTA, Sisipublik.id - Perayaan Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar seremoni kalender, melainkan sebuah ritual politik yang krusial bagi reproduksi identitas nasional secara kolektif. Di tengah narasi kemajuan dan dialektika sejarah, muncul sebuah fenomena yang menyingkap tabir ketegangan antara simbolisme personal dan integritas institusional: atraksi penerjun payung yang membentangkan citra Presiden Prabowo Subianto di ruang udara kenegaraan. Secara objektif, kehadiran fisik seorang presiden sebagai kepala negara dalam protokol resmi adalah manifestasi konstitusional yang wajar. Namun, ketika representasi personal mulai merambah ke dalam ruang-ruang  niskala  yang seharusnya merepresentasikan marwah bangsa secara utuh, diskursus ini menuntut tinjauan kritis yang melampaui sekadar keriuhan perayaan.Dalam membedah fenomena ini, kita harus menerapkan filter logika yang tajam untuk memisahkan personifikasi jabatan, di mana individu menjalankan amanat konstitusi dari personalisasi negara, dari personifikasi institusi, di mana institusi direduksi menjadi identitas pribadi tertentu.

Di tengah  rangkaian  acara tersebut, penempatan citra personal yang dominan dapat  disebut  sebagai indikasi personalisasi simbolik. Hal ini menonjolkan kontradiksi yang mencolok, sementara spektakel udara tersebut dirancang untuk memicu luapan emosional massa, logika demokrasi menuntut supremasi institusi di atas figur. Personalisasi semacam ini kerap tumbuh subur dalam ekosistem politik yang lebih berorientasi pada popularitas personal daripada kapasitas kelembagaan, sebuah kondisi yang perlahan menggeser pusat gravitasi politik dari prosedur hukum menuju karisma individu.Perspektif sosiologi politik Pierre Bourdieu mengenai  symbolic power  memberikan landasan diagnostik untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja melalui mekanisme naturalisasi. Kekuasaan simbolik ini beroperasi dengan mengubah representasi tertentu menjadi sesuatu yang dianggap wajar dan sah oleh publik. Dengan menempatkan foto pemimpin di "langit negara" melalui atraksi terjun payung, terjadi sebuah proses pembentukan  doxa, sebuah kebenaran yang tidak lagi dipertanyakan.
Jika simbol-simbol institusi negara terpinggirkan oleh dominasi wajah personal, maka persepsi publik secara perlahan akan digiring untuk mengidentikkan eksistensi negara dengan eksistensi individu yang sedang berkuasa. Ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan upaya pembangunan legitimasi yang bertumpu pada personifikasi, bukan pada mandat hukum yang impersonal.Dampak dari normalisasi simbol personal ini menyentuh sisi kemanusiaan politik yang paling mendasar, terutama bagi rakyat kecil dan kelompok marjinal. Ketika batas antara pemimpin dan negara menjadi kabur, ruang bagi kritik publik akan semakin menyempit. Bagi masyarakat awam, penunggalan identitas ini dapat menciptakan delusi bahwa kritik terhadap kebijakan seorang pemimpin identik dengan pengkhianatan terhadap negara itu sendiri. Akibatnya, akuntabilitas kekuasaan menjadi lumpuh; rakyat mungkin merasa takut atau sungkan untuk menyuarakan aspirasi mengenai hak-hak mereka karena figur pemimpin telah "disucikan" menjadi simbol nasional.
Dalam demokrasi yang sehat, presiden harus tetap dipandang sebagai pemegang mandat yang dapat dikritik, karena kritik adalah mekanisme kontrol yang menjaga agar kebijakan tetap berpihak pada kemaslahatan publik, bukan pada glorifikasi personal.Di balik drama simbolik ini, terdapat kebutuhan mendesak untuk menelaah etika kelembagaan melalui data dan indikator kesehatan demokrasi. Demokrasi tidak hanya hidup dari teks hukum, tetapi juga dari norma kepantasan yang menjaga jarak antara jabatan dan pribadi. Indikator demokrasi yang tangguh dapat diukur dari sejauh mana kekuatan institusi mampu menjalankan roda pemerintahan secara stabil tanpa bergantung pada karisma satu individu. Data menunjukkan bahwa negara dengan ketergantungan figuratif yang tinggi sering kali mengalami instabilitas saat transisi kekuasaan. Oleh karena itu, depersonalisasi institusi menjadi syarat mutlak; legitimasi politik harus tetap bersandar pada konstitusi dan mandat publik, bukan pada pembangunan kultus yang mengaburkan batas-batas kewenangan.
Sebagai refleksi akhir, kita harus menegaskan kembali prinsip bahwa Republik bersifat permanen, sementara jabatan presiden bersifat sementara. Menjaga jarak simbolik antara negara dan penguasa adalah upaya menjaga budaya politik agar tetap waras dan bermartabat. Kritik terhadap kecenderungan personalisasi simbolik ini tidak boleh disalahartikan sebagai serangan partisan. Para pendukung seharusnya tidak melihat kritik ini sebagai serangan terhadap pribadi presiden, dan di sisi lain, pihak oposisi tidak seharusnya menggunakan peristiwa tunggal ini sebagai peluru untuk menuduh adanya kultus individu tanpa bukti yang lebih luas. Yang kita jaga adalah integritas sistem, memastikan bahwa setiap pergantian kepemimpinan tidak mengubah wajah institusi menjadi wajah pribadi, sehingga marwah demokrasi tetap tegak melampaui kepentingan individu siapa pun yang sedang bertahta.

Artikel Terkait

Pendidikan Gratis: Janji Keadilan Sosial atau Ujian Baru APBN?

Pendidikan Gratis: Janji Keadilan Sosial atau Ujian Baru APBN?

Dinamika dan wacana kebijakan pendidikan negeri gratis—dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Di satu sisi, gagasan ini disambut positif oleh masyarakat dan DPR sebagai wujud keadilan sosial serta pemerataan akses pendidikan. Di sisi lain, muncul berbagai pertimbangan kritis mengenai kesiapan dan keberlanjutan APBN, kejelasan cakupan biaya yang digratiskan, kestabilan sumber pembiayaan (termasuk efektivitas penggunaan asset recovery korupsi), hingga tantangan dalam menjaga mutu dan fasilitas pendidikan tanpa mengorbankan sektor strategis lainnya.

22 Sep 2026
Kepala Daerah di Mata Anak Muda Antara Kinerja, Persepsi dan Popularitas

Kepala Daerah di Mata Anak Muda Antara Kinerja, Persepsi dan Popularitas

Popularitas seorang kepala daerah di media sosial belum tentu menggambarkan keberhasilan pemerintahannya. Di kalangan anak muda, pemimpin daerah ideal bukan hanya yang sering muncul di layar ponsel, tetapi yang mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

21 Sep 2026
Tragedi Keracunan MBG dan Ujian Akuntabilitas Pejabat Negara

Tragedi Keracunan MBG dan Ujian Akuntabilitas Pejabat Negara

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu krisis keracunan masif yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah. Simak ulasan mendalam mengenai kegagalan sistemik BGN serta ujian akuntabilitas para pejabat negara dan anggota DPR dapil

16 Sep 2026
Di Balik Ompreng MBG: Keracunan Massal 3.000+ Siswa, Tuntutan Evaluasi Program MBG

Di Balik Ompreng MBG: Keracunan Massal 3.000+ Siswa, Tuntutan Evaluasi Program MBG

Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada lebih dari 3.000 warga sekolah di Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga NTB. Dipicu kontaminasi bakteri berbahaya seperti Bacillus cereus, S. aureus, dan E. coli, insiden ini memicu gelombang penolakan warga sekolah serta tuntutan transparansi investigasi dari BGN.

14 Sep 2026