Jakarta. Sisipublik.id - Dalam setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, masyarakat selalu mengenang pembacaan Proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Namun, tidak banyak yang memahami bahwa pengibaran Sang Saka Merah Putih pada pagi 17 Agustus 1945 juga merupakan bagian penting dari lahirnya Republik Indonesia. Tugas bersejarah itu diemban oleh Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat, seorang perwira Pembela Tanah Air (PETA) yang tidak hanya bertindak sebagai pengibar bendera, tetapi juga bertanggung jawab atas keamanan jalannya upacara Proklamasi. Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat lahir di Batavia (kini Jakarta) pada 15 Februari 1911. Ia berasal dari keluarga priyayi Jawa. Ayahnya, Raden Mas Mochamad Said Hendraningrat, menjabat sebagai demang (wedana), sedangkan ibunya bernama Raden Ajeng Haerani. Lingkungan keluarganya memberikan kesempatan baginya memperoleh pendidikan Barat sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda, kemudian aktif dalam organisasi kepemudaan seperti Indonesia Muda dan Soerjawirawan, organisasi kepanduan yang berafiliasi dengan Partai Indonesia Raya (Parindra). Selain aktif berorganisasi, Latief juga pernah menjadi guru bahasa Inggris di Perguruan Rakyat dan sekolah Muhammadiyah di Batavia. Pada 1939, ia bahkan memimpin rombongan kesenian Indonesia ke New York World's Fair, menunjukkan bahwa kiprahnya tidak hanya di bidang militer, tetapi juga kebudayaan.
Bergabung dengan PETA

Pada masa pendudukan Jepang, Latief mengikuti pendidikan di Seinen Kunrensho (Pusat Latihan Pemuda). Ketika Jepang membentuk Pembela Tanah Air (PETA) pada 1943, ia segera bergabung dan berhasil menjadi Sudanco, yaitu komandan kompi. Pendidikan militer ini membentuk kemampuan kepemimpinan dan disiplin yang kelak sangat berguna dalam masa revolusi. Sebagai perwira PETA di Jakarta, Latief dikenal memiliki hubungan baik dengan para pemimpin nasional dan kelompok pemuda. Karena itu, ketika Proklamasi akan dilaksanakan, ia dipercaya mengamankan seluruh rangkaian acara.
Pagi hari 17 Agustus 1945, halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 dipenuhi tokoh nasional, pemuda, dan masyarakat. Setelah Soekarno membacakan teks Proklamasi, Latief Hendraningrat menerima Sang Saka Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati. Bersama Suhud Sastro Kusumo, ia mengibarkan bendera Merah Putih secara sederhana tanpa protokol militer. Tidak ada pasukan kehormatan, tidak ada iringan musik resmi, hanya tiang bambu dan semangat kemerdekaan yang memenuhi suasana. Momen itu kemudian menjadi salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah Indonesia. Selain mengibarkan bendera, Latief juga bertanggung jawab mengamankan jalannya upacara. Mengingat Jepang secara formal masih memegang kekuasaan hingga kedatangan Sekutu, risiko pembubaran upacara oleh tentara Jepang tetap ada. Keberadaan Latief dan para anggota PETA menjadi faktor penting yang membuat upacara berlangsung tanpa gangguan berarti.
Setelah Indonesia merdeka, Latief bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia. Ia turut berjuang dalam Revolusi Fisik 1945–1949 dan kemudian menduduki berbagai jabatan penting di lingkungan militer. Di luar dunia kemiliteran, Latief juga dipercaya menjadi Rektor IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada 1964–1965. Penugasan ini menunjukkan bahwa ia dipandang tidak hanya sebagai prajurit, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki perhatian terhadap pembangunan pendidikan nasional.
Akhir Hayat
Latief Hendraningrat wafat di Jakarta pada 14 Maret 1983 dalam usia 72 tahun. Meskipun tidak selalu menjadi tokoh utama dalam narasi sejarah populer, jasanya sebagai pengibar bendera pertama Republik Indonesia tetap dikenang dalam setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Kajian-kajian mutakhir juga berusaha mengoreksi anggapan bahwa Latief hanya "petugas pengibar bendera". Kiprahnya dalam organisasi kepemudaan, dunia pendidikan, PETA, Revolusi Kemerdekaan, hingga pengabdiannya di TNI dan perguruan tinggi menunjukkan bahwa ia adalah salah satu tokoh yang menjembatani masa perjuangan dengan masa pembangunan negara. Dengan demikian, Latief Hendraningrat layak dikenang sebagai pejuang, pendidik, dan perwira yang memberikan kontribusi besar bagi lahir dan tegaknya Republik Indonesia.***



