Sisi Publik

Dari Medan Perang ke Lapangan Hijau

Mengulas rivalitas legendaris antara Inggris dan Argentina jelang semifinal Piala Dunia 2026. Artikel ini membedah bagaimana lapangan hijau bertransformasi dari sengketa geopolitik Perang Falkland dan memori ikonik Maradona 1986, menjadi panggung sublimasi nasionalisme yang damai bagi kedua bangsa.

15 Juli 2026•8 Kali Dilihat
Oleh: MG
inggris vs argentina

Jakarta. Sisipublik.id - Semifinal Piala Dunia 2026 akan melahirkan satu finalis. Namun apa pun hasilnya, Inggris melawan Argentina akan selalu menjadi pertandingan yang membawa beban sejarah. Pertandingan antara Inggris versus Argentina yang akan dihelat dini hari nanti bukan hanya tentang siapa yang berhak melangkah ke final, tetapi juga tentang bagaimana olahraga menjadi ruang tempat sejarah terus dipertontonkan, ditafsirkan ulang, bahkan dipertarungkan. Bagi banyak negara, sepak bola adalah olahraga. Namun bagi Inggris dan Argentina, setiap pertemuan di Piala Dunia selalu membawa gema masa lalu yang sulit dipisahkan dari ingatan kolektif kedua bangsa.

Pertandingan antara Inggris dan Argentina sebenarnya telah mengalami pasang surut sejak abad ke-19. Inggris merupakan salah satu investor terbesar di Argentina pada masa itu. Jalur kereta api, pelabuhan, hingga perdagangan banyak dipengaruhi modal Inggris. Namun hubungan ekonomi yang erat itu tidak otomatis melahirkan hubungan politik yang harmonis. Persoalan utama adalah Kepulauan Falkland—yang oleh Argentina disebut Islas Malvinas. Wilayah kecil di Samudra Atlantik Selatan ini dikuasai Inggris sejak 1833, sementara Argentina menganggapnya sebagai bagian sah dari wilayah nasionalnya. Selama puluhan tahun sengketa berlangsung melalui jalur diplomasi. Namun pada April 1982, pemerintahan militer Argentina di bawah Jenderal Leopoldo Galtieri memutuskan mengirim pasukan untuk merebut kepulauan tersebut. Langkah itu memicu respons militer dari Inggris yang dipimpin oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher.


Perang Falkland berlangsung hanya sekitar 74 hari, tetapi meninggalkan dampak politik yang sangat besar. Inggris memenangkan perang, sementara sekitar 900 prajurit dari kedua pihak gugur. Bagi Inggris, kemenangan tersebut memperkuat posisi politik Margaret Thatcher. Sebaliknya, bagi Argentina, kekalahan itu mempercepat runtuhnya rezim junta militer sekaligus meninggalkan luka psikologis yang masih terasa hingga kini. Sejak saat itu, setiap pertandingan sepak bola antara kedua negara hampir selalu dibaca dalam bingkai sejarah perang tersebut.


Piala Dunia 1986: Ketika Politik Bertemu Sepak Bola

Empat tahun setelah perang, Inggris dan Argentina dipertemukan di perempat final Piala Dunia Meksiko. Pertandingan itu kemudian menjadi salah satu laga paling ikonik sepanjang sejarah sepak bola. Diego Armando Maradona mencetak dua gol yang sama-sama dikenang dunia. Gol pertama lahir melalui tangan kirinya yang luput dari pengamatan wasit. Dunia mengenalnya sebagai "Hand of God". Empat menit kemudian, Maradona mencetak gol spektakuler setelah menggiring bola dari tengah lapangan melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton. Gol kedua itu kemudian dipilih FIFA sebagai "Goal of the Century". Namun makna kedua gol tersebut jauh melampaui aspek teknis sepak bola dan saling bertolak belakang. Di Inggris, Hand of God dipandang sebagai simbol ketidakadilan. Di Argentina, gol tersebut dipahami sebagai kemenangan simbolik atas bangsa yang baru saja mengalahkan mereka di medan perang.

Maradona sendiri memperkuat tafsir itu ketika mengatakan gol tersebut dibuat "sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan." Pernyataan tersebut menjadikan pertandingan itu bukan sekadar kemenangan olahraga, melainkan bagian dari narasi nasional Argentina.

Nasionalisme Rumput Hijau

Sosiolog Norbert Elias menjelaskan bahwa olahraga modern merupakan bentuk sublimasi konflik. Persaingan yang dahulu diwujudkan melalui peperangan kini dipindahkan ke arena pertandingan dengan aturan yang disepakati bersama. Sementara Benedict Anderson melalui konsep Imagined Communities menjelaskan bahwa bangsa dibentuk oleh imajinasi kolektif. Ketika tim nasional bermain, jutaan warga merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama meski tidak saling mengenal. Karena itu, kemenangan tim nasional sering dipersepsikan sebagai kemenangan seluruh bangsa. Sebaliknya, kekalahan juga dirasakan sebagai luka bersama. Tidak mengherankan apabila setiap kali Inggris bertemu Argentina, emosi publik jauh lebih besar dibanding pertandingan melawan negara lain.

Setelah Maradona, rivalitas antara Inggris versus Argentina memasuki fase baru. Kedua negara ini bertemu dalam ajang Piala Dunia 1998 yang pada saat itu menghadirkan insiden David Beckham yang dikartu merah setelah bersitegang dengan Diego Simeone. Empat tahun kemudian, Inggris membalas melalui kemenangan 1-0 lewat penalti Beckham. Meski sejarah terus membayangi, hubungan Inggris dan Argentina saat ini jauh lebih baik dibanding era 1980-an. Kedua negara tetap memiliki hubungan diplomatik dan kerja sama internasional, meski sengketa Malvinas belum terselesaikan.

Dalam konteks ini, sepak bola menjadi arena yang menarik. Ia memungkinkan dua bangsa menyalurkan nasionalisme secara damai. Tidak ada peluru. Tidak ada kapal perang. Yang ada hanyalah bola, stadion, dan jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan. Seperti dikatakan sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, olahraga adalah ruang perebutan simbolik. Kemenangan bukan hanya soal skor, tetapi juga soal prestise, identitas, dan pengakuan. Dan sepak bola, pada akhirnya, adalah bahasa universal yang mampu mengubah konflik menjadi kompetisi, permusuhan menjadi pertandingan, serta sejarah menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.***

Artikel Terkait

News Creator, Jalan Baru Media Siber Mencari Revenue

News Creator, Jalan Baru Media Siber Mencari Revenue

Diskusi AMSI dan UMN membahas peluang news creator sebagai strategi revenue baru bagi media siber. Selain membuka potensi komersial melalui pembentukan personal brand dan komunitas audiens, tren ini juga menghadirkan tantangan dalam menjaga independensi serta kredibilitas jurnalistik.

30 Sep 2026
Kasus Intoleransi di Indonesia Masih Marak: Ancaman yang Terus Terjadi

Kasus Intoleransi di Indonesia Masih Marak: Ancaman yang Terus Terjadi

Ringkasan Eksekutif :Kasus intoleransi dan pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia masih terus terjadi secara persisten. Berdasarkan temuan SETARA Institute, terjadi ratusan peristiwa pelanggaran yang dominan berwujud penolakan rumah ibadah, pembubaran kegiatan, dan intimidasi sosial. Lemahnya kepemimpinan daerah serta eksistensi regulasi diskriminatif menjadi pemicu utama yang membutuhkan langkah sistemik dari pemerintah.

30 Sep 2026
Netizen Puji Aksi Walk Out, Namun Masih Curiga Terhadap Pemerintah

Netizen Puji Aksi Walk Out, Namun Masih Curiga Terhadap Pemerintah

Aksi delegasi Indonesia meninggalkan ruang sidang ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hendak berpidato di Sidang Umum PBB mendapat sambutan positif dari sebagian pengguna media sosial Indonesia. Namun di balik dukungan itu, muncul pula pertanyaan yang belum selesai: jika Indonesia tetap tegas berdiri bersama Palestina, mengapa sebelumnya muncul pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang membuka kemungkinan hubungan diplomatik dengan Israel dengan syarat tertentu?

28 Sep 2026
Investasi Ekologi Daerah Terhambat Efisiensi?

Investasi Ekologi Daerah Terhambat Efisiensi?

Efisiensi anggaran kini menguji seberapa jauh pemerintah daerah menganggap lingkungan sebagai prioritas. Dari 44 skema Ecological Fiscal Transfer (EFT) yang terdata hingga Juli 2026, hanya 22 yang masih berjalan. Separuh lainnya masih direncanakan, ditunda, ditangguhkan (suspended), atau tidak dilanjutkan.

24 Sep 2026