Sisi Publik

Taufiq Supriadi: Menyelamatkan Bumi dari Gang Sempit

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Timur, ketika banyak orang menganggap perubahan iklim adalah urusan pemerintah atau organisasi internasional, Taufiq Supriadi memilih jalan berbeda. Baginya, penyelamatan bumi justru dimulai dari tempat yang paling dekat: lingkungan rukun tetangga.

3 Agustus 2026•13 Kali Dilihat
Oleh: MG
Taufiq Supriadi:  Menyelamatkan  Bumi dari Gang Sempit

Kredit: Eco.kita

Jakarta. Sisipublik.id - Pagi belum sepenuhnya terang ketika aktivitas mulai menggeliat di sebuah lingkungan permukiman di Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Di antara deretan rumah yang berhimpitan, tanaman sayuran tumbuh rapi di sudut-sudut gang. Tempat sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, ruang terbuka dimanfaatkan sebagai kebun kecil, dan warga saling menyapa sembari membersihkan lingkungan. Pemandangan itu bukan lahir secara kebetulan, melainkan hasil gagasan yang dibangun perlahan oleh Taufiq Supriadi—seorang Ketua RT yang percaya bahwa perubahan dunia tidak selalu harus dimulai dari ruang sidang atau panggung konferensi internasional. Menurutnya, aksi nyata penyelamatan bumi dapat dimulai dari sebuah gang kecil.

Bagi Taufiq, jabatan Ketua RT bukan sekadar urusan administratif untuk mengeluarkan surat pengantar atau mendata penduduk. Ia melihat RT sebagai organisasi sosial paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tempat itulah kebiasaan terbentuk, solidaritas tumbuh, dan perubahan nyata bisa diwujudkan. Sebagai Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, ia membangun paradigma bahwa RT merupakan laboratorium sosial tempat masyarakat belajar hidup lebih berkelanjutan. Kepemimpinan baginya bukan hanya mengelola administrasi warga, melainkan menggerakkan perubahan perilaku secara konsisten.

Berbekal pengalaman di bidang pemberdayaan masyarakat dan tata kelola, Taufiq mendorong warganya untuk memandang sampah sebagai sumber daya berharga, ruang kosong sebagai lahan produktif, serta gotong royong sebagai modal utama menghadapi krisis lingkungan. Berbagai inisiatif berkelanjutan pun lahir dari lingkungan RT tersebut, mulai dari pengelolaan sampah berbasis warga, urban farming, pemanfaatan energi surya, penghijauan lingkungan, hingga penguatan ekonomi sirkular. Bagi Taufiq, perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan masyarakat melalui cuaca ekstrem, banjir, berkurangnya ruang hijau, dan meningkatnya biaya hidup. Oleh karena itu, solusi tidak cukup hanya bergantung pada kebijakan dari atas, melainkan warga harus menjadi pelaku utama perubahan.


Sosok Sederhana dengan Filosofi Luas

Meskipun berpenampilan sederhana, Dr. Taufiq Supriadi Yusuf bukanlah sosok sembarangan. Latar belakang pendidikannya terbilang mengagumkan dengan gelar akademik Doktor (Dr.). Selain mendedikasikan waktunya sebagai Ketua RT 08/RW 04 Malaka Jaya, ia juga berprofesi sebagai auditor di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta menjadi pengajar di bidang pemberdayaan masyarakat di salah satu perguruan tinggi di Ibu Kota. Rekam jejak dan pemikirannya ini menempatkan Taufiq sebagai figur penting di balik pendorong gerakan lingkungan berbasis komunitas.

Taufiq jugalah perumus di balik konsep "Pencegah Krisis Planet" dan "Survival Architecture Indonesia", yaitu sebuah model pemberdayaan warga untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, serta pemanfaatan energi terbarukan di tingkat RT. Kedua konsep ini digunakan sebagai pendekatan praktis dalam menjawab kompleksitas tantangan perubahan iklim melalui perspektif lokal. Bagi Taufiq, solusi krisis lingkungan tidak harus mahal; langkah sederhana seperti memilah sampah, membuat kompos, memanen air hujan, menanam tanaman produktif, mengurangi pemborosan energi, dan memperkuat gotong royong akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Prinsip kepemimpinan dan dedikasi Taufiq dalam mengelola lingkungan mendapatkan apresiasi luas. Pada tahun 2026, ia diundang oleh Pemerintah Kota Cirebon untuk berbagi pengalaman mengenai strategi pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan kepada para ketua RT dan RW di wilayah tersebut. Kisah Taufiq Supriadi menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh besarnya jabatan, melainkan oleh kemampuannya dalam menggerakkan orang lain. Selama ini ia berpegang pada filosofi sederhana: semakin kecil wilayah yang mampu berubah, semakin besar peluang perubahan itu menyebar ke wilayah lain.

Di tengah dunia yang terus menghadapi ancaman krisis iklim, pesan yang dibawa Taufiq terasa sangat sederhana namun berdampak kuat. Dari sebuah RT di Jakarta Timur, ia memperlihatkan bahwa gang sempit dapat menjadi ruang belajar, halaman rumah menjadi sumber pangan, dan sampah rumah tangga menjadi bahan baku ekonomi baru. Jika setiap RT di Indonesia mampu menjadi pusat gerakan lingkungan, maka jutaan keluarga akan menjadi bagian langsung dari solusi global. Penyelamatan bumi memang selalu dimulai dari rumah, dari tetangga, dan dari satu langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama.***

Artikel Terkait

News Creator, Jalan Baru Media Siber Mencari Revenue

News Creator, Jalan Baru Media Siber Mencari Revenue

Diskusi AMSI dan UMN membahas peluang news creator sebagai strategi revenue baru bagi media siber. Selain membuka potensi komersial melalui pembentukan personal brand dan komunitas audiens, tren ini juga menghadirkan tantangan dalam menjaga independensi serta kredibilitas jurnalistik.

30 Sep 2026
Kasus Intoleransi di Indonesia Masih Marak: Ancaman yang Terus Terjadi

Kasus Intoleransi di Indonesia Masih Marak: Ancaman yang Terus Terjadi

Ringkasan Eksekutif :Kasus intoleransi dan pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia masih terus terjadi secara persisten. Berdasarkan temuan SETARA Institute, terjadi ratusan peristiwa pelanggaran yang dominan berwujud penolakan rumah ibadah, pembubaran kegiatan, dan intimidasi sosial. Lemahnya kepemimpinan daerah serta eksistensi regulasi diskriminatif menjadi pemicu utama yang membutuhkan langkah sistemik dari pemerintah.

30 Sep 2026
Netizen Puji Aksi Walk Out, Namun Masih Curiga Terhadap Pemerintah

Netizen Puji Aksi Walk Out, Namun Masih Curiga Terhadap Pemerintah

Aksi delegasi Indonesia meninggalkan ruang sidang ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hendak berpidato di Sidang Umum PBB mendapat sambutan positif dari sebagian pengguna media sosial Indonesia. Namun di balik dukungan itu, muncul pula pertanyaan yang belum selesai: jika Indonesia tetap tegas berdiri bersama Palestina, mengapa sebelumnya muncul pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang membuka kemungkinan hubungan diplomatik dengan Israel dengan syarat tertentu?

28 Sep 2026
Investasi Ekologi Daerah Terhambat Efisiensi?

Investasi Ekologi Daerah Terhambat Efisiensi?

Efisiensi anggaran kini menguji seberapa jauh pemerintah daerah menganggap lingkungan sebagai prioritas. Dari 44 skema Ecological Fiscal Transfer (EFT) yang terdata hingga Juli 2026, hanya 22 yang masih berjalan. Separuh lainnya masih direncanakan, ditunda, ditangguhkan (suspended), atau tidak dilanjutkan.

24 Sep 2026